Rabu, 13 Jul 2016 15:17 WIB

Kecewa karena Dihina Keluarga Suami, Harus Bagaimana?

Foto: thinkstock
Jakarta - Kejadian itu bermula pada awal tahun 2015, di mana saat itu saya dan suami sedang berkunjung ke rumah mertua dan tidak jauh pula terdapat rumah kakak dari suami. Saat itu suami berinisiatif akan meminjam sertifikat rumah orang tuanya untuk dapat melunasi seluruh utang-utang kami dan akan diganti. Sebenarnya saya kurang setuju cara tersebut dan saya pun tidak mau ikut campur dengan masalah sertifikat itu.

Orang tua suami memang menyetujui tapi berbeda dengan kakak ipar yang sangat tidak setuju karena merasa selama ini beliau yang banyak berjasa terhadap orang tua dari suami saya. Akhirnya terjadilah perdebatan di antara kami dan kakak ipar. Entah kenapa perdebatan itu berlangsung beberapa jam hingga menyeret keluarga saya (orang tua saya).

Mereka menyebut saya istri yang tidak bersyukur karena dianggap menghamburkan uang suami padahal saya sendiri pun bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. S aya dianggap istri tidak berpendidikan dan secara terang-terangan menyebut bahwa orang tua saya tidak mampu mendidik anaknya. Saat itu hati saya hancur sekali dan suami saya pun hanya terdiam tidak bisa berbuat apa-apa. Saya sangat kesal dan kecewa terhadap suami saya hingga beberapa hari setelah kejadian itu saya tidak berkomunikasi dengan suami.

Hingga saat ini saya masih teringat kejadian itu dan masih terekam di memori saya bagaimana kakak dari suami saya menghina orang tua saya. Sulit sekali bagi saya untuk dapat menerima kejadian itu. Sekarang hampir 1 tahun saya tidak menemui kakak ipar saya itu karena kekecewaan yang sangat mendalam dan saya pun sudah berniat tidak akan pernah menginjakkan kaki saya di rumahnya apalagi sampai bertemu beliau. Mohon sarannya.

Widiyastuti (Wanita, 30 tahun)
widy_skyXXXXXX@yahoo.com
Tinggi 159 cm, berat 49 kg

Jawaban

Dear Widy,

Menyerang seseorang secara personal, apalagi membawa-bawa orang tua yang tidak terkait langsung dengan permasalahan memang wajar kalau Widy juga ikut merasa marah terhadap ipar.

Emosi itu memang mudah sekali ditularkan, dan setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengeluarkan kemarahannya. Banyak sekali faktor yang berpengaruh, seperti kematangan emosi, kepribadian, latar belakang keluarga, intensitas masalah, dst. Hal-hal inilah yang berpengaruh terhadap bagaimana seseorang mengelola konfliknya. Ada yang bisa fokus untuk membahas permasalahan yang ada dengan tenang, ada yang membutuhkan waktu untuk menjauh dulu sebelum membicarakan masalah, ada juga orang yang ketimbang fokus terhadap masalah malah merembet menyalahkan pihak-pihak lain (yang memungkinkan untuk disalahkan, meskipun jika dipikirkan secara logis sebenarnya tidak berhubungan).

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk menghadapi kemarahan orang lain yang ditujukan kepada kita adalah bertanya dulu kepada diri sendiri. Misalnya, apa iya Widy tidak bersyukur? Apa iya Widy menghambur-hamburkan uang suami? Apa iya Widy merasa orang tua tidak mendidik dengan baik? Jika jawaban semua pertanyaan tersebut adalah tidak, berarti kata-kata ipar tidak berdasarkan fakta yang ada. Sehingga, Widy sekarang punya pilihan untuk mendengarkan dan memikirkan kemarahan ipar yang tidak berdasarkan fakta atau mau menganggap bahwa itu adalah kata-kata yang sedang diucapkan oleh orang marah sehingga tidak perlu dimasukkan ke dalam hati? Widy yang memilih, karena biasanya kata-kata yang keluar pada saat marah dengan cara seperti itu, seringkali bukanlah kata-kata yang dipikirkan dan terkait dengan masalah yang ada.

Namun, berdasarkan cerita Widy, saya lebih melihat kemarahan dan kekecewaan yang dirasakan sebenarnya ditujukan kepada suami. Beberapa kemungkinan yang bisa terjadi adalah karena merasa tidak dibela di hadapan keluarga ketika Widy dipersalahkan, atau bisa jadi kemarahan tersebut sudah terjadi sebelum pertengkaran dengan ipar. Misalnya ketidaksetujuan Widy terhadap hal yang dilakukan oleh suami sehingga keluarga terjerat banyak hutang yang akhirnya menimbulkan masalah-masalah lanjutan, termasuk memburuknya hubungan dengan kakak ipar.

Silakan direnungkan ya. Dengan memikirkan berbagai alternatif kemungkinan yang terjadi, kemarahan Widy juga bisa diarahkan dengan tepat, sehingga masalahnya juga bisa diselesaikan.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)