Selasa, 04 Okt 2016 14:14 WIB

Menghadapi Pasangan yang Gemar Curhat di Medsos Ketika Bertengkar

Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Mbak Wulan Yth, saya dan pacar saya berencana menikah tahun depan. Kami sebenarnya sering sekali beda pendapat, tapi saya selalu berusaha untuk mengalah dan memperbaiki hubungan. Kalau dipikir-pikir, hal yang baik bersamanya lebih banyak ketimbang hal buruknya.

Kami sudah pacaran sekitar dua tahun. Pacar saya itu sering sekali update apapun di media sosial. Kami jalan ke mana, makan apa, semua dia posting entah itu di Path atau sekadar untuk status dan profil di BBM.

Sebenarnya saya risih Mbak. Sudah pernah meminta pacar saya untuk nggak melakukannya, tapi dia malah marah dan mengatakan saya tidak bangga punya calon istri seperti dia. Kalau sudah begini, dia itu saya pikir kekanak-kanakan banget.

Yang parah adalah kalau kami sedang marahan, dia juga update status tetang masalah kami. Makin malulah saya kalau seperti ini. Kadang saya berpikir perempuan seumur dia yang sudah 27 tahun kok masih sekekanak-kanakan itu ya? Sudah itu hampir di segala hal merasa paling benar. Apa memang benar kata orang: perempuan itu selalu benar dan laki-laki selalu salah?

Mr X (Pria, 27 tahun)

Jawaban

Dear Mr. X,

Selamat untuk rencana pernikahan Anda. Anda sudah memiliki salah satu modal dasar dalam menjalin hubungan pernikahan, yaitu Anda bisa menyadari ada banyak hal baik dalam hubungan Anda meskipun saat ini Anda sedang menghadapi permasalahan, sesuatu yang Anda butuhkan terutama ketika menghadapi kehidupan perkawinan yang masalahnya tentu akan semakin kompleks.

Mengenai pertanyaan Anda 'perempuan itu selalu benar dan laki-laki selalu salah', pemikiran seperti ini bisa berbahaya, lho. Kenapa? Karena lama-lama bisa membuat pria berpikir 'malas' untuk membicarakan permasalahan karena selalu disalahkan. Perilaku yang akhirnya muncul adalah mengalah namun lama kelamaan lelah, malas menanggapi, memilih untuk berbohong atau tidak menceritakan semuanya daripada menjadi masalah. Sementara dari sisi perempuan, bisa jadi ia terus menerus merasa dirinya benar, merasa tidak dipedulikan dan merasa tidak disayangi. Pada akhirnya, masalah yang ada hanya dihindari sementara waktu sampai masalah yang sama terulang kembali.

Saya setuju bahwa tidak semua permasalahan perlu diceritakan di sosial media. Pada usia tertentu memang seseorang diharapkan sudah bisa menyaring apa yang sebaiknya dibagi ke media sosial atau hanya pada lingkungan terdekatnya saja. Namun, kalau ini disampaikan secara frontal kepada pasangan kita, tentu saja akhirnya bisa membuat kita tampak kekanakkan juga kan ya.

Sekarang pertanyaannya adalah sejauh mana Anda tahu apa yang pasangan harapkan dengan cerita di sosial media? Hanya butuh curhat saja kah? Minta pendapat dari orang lain kah? Atau mungkin ia menyukai perhatian yang didapatkan? Atau apa? Ketimbang Anda langsung melarang sebaiknya cari tahu dulu apa sih yang membuat ia senang sekali update di sosial media, bahkan sampai curhat pun di sosial media. Tentu saja pertanyaannya juga perlu dirangkai dan diucapkan seperti orang yang memang ingin mengenal lebih dalam pasangannya, bukan menginterogasi. Misalnya, nih, 'sayang, aku pengen tahu deh, kamu kalo sering update di socmed gitu yang kamu rasain apa sih?', 'kalau kamu curhat di socmed gitu, biasanya yang kamu dapet apa? Respon temen-temen kamu seperti apa biasanya? Terus yang kamu rasain dengan respon temen-temen kamu seperti itu apa?'

Jika saat ini pasangan merasa Anda tidak menyayangi dia karena Anda melarang dia untuk selalu update status, bagaimana jika kalau Anda balik kata-kata dia menjadi justru karena Anda menyayangi dia, makanya Anda khawatir jika pasangan terlalu sering curhat di sosial media. Misalnya, bisa jadi ia malah dijauhi oleh teman-teman karena terlalu banyak mengeluh, atau ada orang yang memanfaatkan pasangan karena dianggap lemah, atau akan ada masukkan-masukkan dari orang lain yang tidak memahami masalah kalian dan malah jadi memperkeruh masalah, dsb. Apapun alasannya, itu Anda lakukan bukan karena hanya Anda memikirkan diri Anda (misalnya, malu), tetapi juga karena Anda memikirkan pasangan dan hubungan kalian.

Bisa jadi dengan bertanya, Anda bisa menemukan hal-hal yang selama ini dibutuhkan oleh pasangan tetapi tidak Anda sadari. Misalnya, kebutuhan akan perhatian yang begitu besar, kesepian, merasa tidak percaya diri, insecure, dsb. Kalau pola ini terus berulang pada banyak aspek kehidupannya, bisa jadi sebenarnya ada isu yang lebih dalam dari sekedar yang terlihat.

Kalau memungkinkan, lakukan konseling pranikah ya. Bisa untuk melihat potensi-potensi apa yang sudah kalian miliki untuk bekal dalam pernikahan, dan juga mengenali potensi masalah yang bisa terjadi berdasarkan karakteristik pasangan serta mencari alternatif bagaimana antisipasi yang bisa dilakukan. Selamat lebih mengenal pasangannya ya, Mr. X.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)