Studi ini menemukan bahwa ternyata protein yang ada pada bisa Chilian rose tarantula berpotensi untuk mengatasi penyakit distrofi otot. Pada penderita penyakit ini serabut ototnya mengalami kerusakan sehingga fungsi ototnya terganggu dan melemah secara progresif.
Secara spesifik, protein dari tarantula ini akan membantu memperlambat proses pelemahan sel-sel ototnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berharap bisa membantu cucunya, Harvey pun mencari pengobatan distrofi otot lewat Google dan dalam waktu singkat, Harvey menemukan ilmuwan asal University of Buffalo, Frederick Sachs, PhD. Sachs adalah profesor di bidang fisiologi dan biofisika yang telah lama mempelajari manfaat bisa binatang.
Setelah berkomunikasi selama berbulan-bulan, akhrinya Harvey dan Sachs mendirikan Tonus Therapeutics, sebuah perusahaan farmasi yang berdedikasi untuk mengembangkan protein dari binatang seperti tarantula sebagai obat.
Meskipun pengobatan dengan bisa ini belum diujicobakan pada manusia, protein ini telah berhasil membantu tikus yang mengalami distrofi otot memperoleh kekuatannya kembali pada percobaan awal.
"Selain itu, meski terapi ini juga bukan obat bagi distrofi otot namun jika protein ini bisa membantu mengatasi kondisi distrofi otot pada manusia maka dapat memperpanjang masa hidup anak-anak seperti JB hingga tahunan," ujar Harvey seperti dilansir dari medindia, Selasa (24/7/2012).
JB yang berusia 4 tahun kini sudah tak bisa menuruni tangga sendirian dan ketika berlari pun ia tampak tertatih-tatih. Namun JB menerima terapi fisik dan pengobatan dengan steroid untuk mengatasi penyakit ototnya tersebut.











































