Ya, mulai pada 1 Agustus nanti karyawan Seoul Metropolitan Government (SMG) diberikan kebebasan untuk memilih jam tidur mereka di antara pukul 1 siang hingga pukul 6 sore. Mereka memiliki jatah tidur masing-masing per orang 1 jam. Namun, mereka tetap diberikan syarat yakni datang lebih awal atau pulang terlambat.
Keputusan ini dianggap unik karena merupakan kali pertama ada aturan yang memperbolehkan karyawan tidur siang. "Karyawan bisa memanfaatkan lounge, ruang pertemuan dan tempat-tempat lain untuk beristirahat," kata juru bicara dari City Hall yang tak disebutkan namanya, seperti dikutip dari BBC, Selasa (22/7/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prosedurnya, setiap karyawan yang ingin tidur siang diminta untuk melapor pada atasan. Setelah disetujui, yang bersangkutan akan diminta untuk bekerja lembur, sesuai dengan waktu tidur yang ia lakukan. Jika ia tidur 1 jam (waktu maksimal), maka jam pulangnya pun akan ditambah 1 jam lebih malam.
Pejabat pemerintah kota Seoul yakin sistem ini akan mendapatkan respons yang positif, meskipun awalnya sempat disebut-sebut beberapa karyawan merasa enggan tidur saat sedang ada bos ataupun enggan pulang lebih malam. Mereka sendiri mengambil keputusan tersebut dengan tujuan untuk kesehatan dan meningkatkan efisiensi kerja para karyawannya.
Wakil Sekjen PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Mahesa Paranadipa, MH, mengatakan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan stres, mudah marah, sedih hingga kelelahan mental.
"Selain itu, kurang tidur dapat menyebabkan gejala depresi yang diperlihatkan dengan gejala insomnia dan tidak nafsu makan. Cara paling mudah untuk mengganti waktu tidur yang hilang adalah dengan tidur siang," tulis dr Mahesa dalam surat elektronik yang diterima detikHealth.
(ajg/up)











































