Pertolongan Pertama Ketika 'Burung' si Kecil Tiba-tiba Tersunat

Fenomena 'Mendadak Tersunat'

Pertolongan Pertama Ketika 'Burung' si Kecil Tiba-tiba Tersunat

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 08 Jan 2015 11:01 WIB
Pertolongan Pertama Ketika Burung si Kecil Tiba-tiba Tersunat
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Parafimosis merupakan kondisi di mana kulup penis anak lelaki tiba-tiba tertarik seperti sudah disunat. Di masyarakat, kejadian ini kerap disebut dengan fenomena disunat jin. Ketika hal ini terjadi, apa pertolongan pertama yang bisa dilakukan?

"Pertolongan pertama adalah berusaha mengembalikan posisi preputium atau kulit tudung penis. Apabila tidak berhasil maka harus segera dibawa ke dokter," tegas dr Ayodia Soebadi, SpU saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Kamis (8/1/2015).

Lebih lanjut, pria yang biasa disapa dr Yodi menuturkan, jika dokter tidak bisa mengembalikan posisi kulit tudung penis seperti semula, maka akan dilakukan tindakan bedah minor. Caranya, yakni dilakukan pemotongan dari kulit sampai cincin jeratan terbuka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Prosedur ini bisa dilanjutkan dengan khitan. Nah, 1 sampai 2 minggu setelah dikhitan umumnya anak sudah pulih kembali," imbuh dokter yang praktik di RSUD Dr Soetomo Surabaya ini.

Saat memeriksa pasien parafimosis, Dr Jong M Choe, MD dari Urodynamics/Continence Center, Department of Surgery, Division of Urology, University of Cincinnati Medical Center menuturkan umumnya dokter akan fokus pada penis dan skrotum pasien.

Jika kelenjar atau kulit tudung penis berwarna merah muda, maka suplai darah masih cukup bagus. Sebaliknya, jika tampak menghitam, autonekrosis atau mulai matinya jaringan di sekitar penis bisa saja terjadi. Selain itu, rabaan pada kelenjar di penis dan skrotum dikatakan Dr Choe juga bisa memberi informasi soal 'keberlangsungan hidup' kelenjar di penis.

"Penis yang normal itu lembut dan lentur. Tapi, jika kelenjar di sekitarnya terasa elastis dan tegang, ditambah dengan area penis yang berwarna hitam, maka nekrosis atau kematian jaringan pada penis patut diwaspadai," tutur Dr Choe.

(rdn/up)

Berita Terkait