Selama 4 tahun mulai dari 2011 hingga 2014, Raza mendedikasikan dirinya untuk memotret keseharian para pasien di Punjab Institute of Mental Health, Lahore, Pakistan. Tidak ada kekerasan atau sikap kasar yang ia terima. Ia bahkan berteman baik dengan beberapa pasien di sana.
"Mereka memiliki hasrat yang besar untuk diperhatikan, untuk dilihat, dan yang paling penting, mereka sangat ingin untuk dicintai," tutur Raza, seperti dikutip dari CNN, Senin (31/8/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah melakukan lebih dari 70 kunjungan ke Lahore, Raza menemukan hal yang mengejutkan. Beberapa pasien menurutnya sangat jauh dari kata 'gila', bahkan lebih waras daripada beberapa orang yang pernah ditemuinya di kehidupan seharo-hari.
Meski begitu, masyarakat luas masih menilai pasien gangguan jiwa sebagai masyarakat golongan bawah. Bahkan menurut Raza, ada beberapa keluarga yang menolak untuk menerima pasien kembali ke rumah, dan lebih memilih untuk menitipkan mereka di rumah sakit meskipun keadaannya sudah membaik.
Karena itu, hampir seluruh pasien tak pernah lagi merasakan kehidupan sosial. Sebagian dari mereka akan meninggal karena sebab alami, namun sebagian lagi meninggal karena bunuh diri akibat kesepian.
Banyak cerita menarik soal pasien yang didapatkan oleh Raza. Salah satu pasien sangat gemar melarikan diri dari rumah sakit. Pasien yang dulunya berprofesi sebagai profesor ini kabur untuk makan enak, bertahan hidup dengan cara mengemis, dan akhirnya kembali lagi setelah beberapa waktu.
"Profesor ini merupakan kawan yang baik. Ketika dalam keadaan normal, ia teman yang enak untuk diajak bicara. Ia mengutip perkataan dari karya sastra, Shakespeare, dan puisi-puisi klasik," urainya.
Baca juga: Angkringan Gelimas Jiwo, Bentuk Pemberdayaan Survivor Sakit Jiwa di Bantul
Kisah lainnya adalah seorang pemuda berusia 22 tahun yang mengalami gangguan jiwa karena patah hati. Pemuda ini diantar oleh ayahnya untuk diobati selama dua minggu. Namun setelah satu tahun, Raza masih melihat pemuda ini dirawat di Lahore.
Pengalamannya selama 4 tahun bolak-balik ke Lahore didokumentasikan dalam karya fotonya. Raza mengatakan foto ini merupakan bukti untuk dunia luar bahwa apa yang disebut 'gila' sejatinya tidaklah menakutkan dan menyeramkan.
"Mereka dicap sebagai kelas rendah. Namun dari apa yang aku temui, orang-orang yang disebut tidak waras ini lebih waras daripada sebagian orang-orang lain di luar sana," pungkasnya
Halaman 2 dari 1











































