Setop Hobi Makan Mi Instan Plus Nasi, Lia Berhasil Turunkan Bobot 25 Kg

Diet Experience

Setop Hobi Makan Mi Instan Plus Nasi, Lia Berhasil Turunkan Bobot 25 Kg

Christallia - detikHealth
Selasa, 15 Sep 2015 12:01 WIB
Setop Hobi Makan Mi Instan Plus Nasi, Lia Berhasil Turunkan Bobot 25 Kg
Before
Jakarta - Awalnya Christallia (23) atau yang akrab disapa Lia ini tak pernah memerhatikan bentuk tubuhnya. Ia juga hobi makan mi instan dua bungkus plus nasi. Namun kini tubuhnya jadi lebih langsing semenjak ia berhenti melakukan kebiasaan tersebut.

Ya, ia menerapkan pola makan baru dengan lebih memerhatikan pemilihan menu dan porsi. Berat badannya yang semula 84 kg pun berhasil turun menjadi 59 kg dalam waktu 7 bulan. Kini wanita dengan tinggi badan 165 cm tersebut pun jauh lebih percaya diri. Berikut kisahnya, seperti ditulis detikHealth pada Selasa (15/9/2015):

Sejak usia 9 tahun, saya memang bisa dibilang bongsor karena tidak seperti teman-teman pada umumnya. Saya selalu memakai ukuran baju dewasa. Ibu saya selalu memperingatkan saya untuk menjaga pola makanan demi kesehatan. Namun hal itu saya hiraukan hingga saya kuliah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya mengonsumsi apapun yang menurut saya enak. Salah satu makanan favorit saya yaitu mi instan. Hampir setiap hari, mi instan menjadi pilihan saya di kala pagi, siang bahkan malam hari. Tidak hanya cukup satu bungkus saja, saya pun mengonsumsi dua mi instan lengkap dengan tambahan nasi, telur, dan olahan ayam.

Pola makan seperti itu saya pertahankan hingga semester akhir di perkuliahan saya. Sampai pada akhirnya, saya mengalami sesuatu yang di luar batas saya. Saya mengalami Amenorea di mana saya tidak mengalami menstruasi selama lima bulan. Ketika saya menyampaikan ke ibu saya sontak beliau kaget.

Saat diperiksa oleh dokter kandungan, ia mengatakan bahwa saya mengalami gangguan hormon yang diakibatkan penumpukan lemak dan kelelahan. Dokter juga menanyakan apa saya memiliki keturunan diabetes dari orang tua dan saya menjawab iya. Ibu dan almarhum ayah memiliki riwayat diabetes. Ia menyarankan saya untuk mulai memikirkan efek jangka panjang tersebut dan mencoba untuk diet.

Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk hidup lebih sehat. Sesudah lulus dari kuliah, saya menjalani metode yang saya terapkan hingga sekarang. Awalnya berat tetapi saya berusaha keras. Sekitar jam 8-9 pagi saya biasa mengonsumsi oatmeal yang saya kombinasikan dengan susu, keju, atau abon.

Saat makan siang awalnya saya masih mengonsumsi kentang atau tahu sebagai menu karbohidrat. Saya padukan dengan dua macam sayur dan satu macam daging. Pada jam tiga saatnya camilan sore, saya mengonsumsi buah. Pola ini saya lakukan pada hari Senin-Sabtu, hari Minggu saatnya 'cheating time', namun saya tetap memerhatikan porsi.

Untuk mengakali beberapa bentuk tubuh yang kendur, saya joging atau lari pagi setiap Sabtu dan Minggu. Sekali seminggu sebelum kerja saya juga lari pagi. Olahraga yang saya rasa belum begitu cukup saya tambahkan dengan naik bus ke kantor yang di mana setelah turun dari bus, saya jalan kaki lagi.

Melakukan pola tersebut membuat saya lebih percaya diri dan sehat. Kini saya sudah mengalami menstruasi secara rutin setiap bulannya, napas saya yang pendek ketika naik tangga sudah tidak pernah terjadi lagi. Kuncinya hanya satu! Jika ada niat, pasti ada hasilnya. Semoga bisa menginspirasi orang di luar sana ya, detikHealth!

Baca juga:Ingin Tampil Menarik di Hari Pernikahan, Hasmi Sukses Pangkas Bobot 23 Kg



(ajg/up)

Berita Terkait