Ingin Hamil Lagi? Sebaiknya Tunggu Hingga Anak Berusia 2 Tahun

Ingin Hamil Lagi? Sebaiknya Tunggu Hingga Anak Berusia 2 Tahun

Sapta Agung Pratama - detikHealth
Kamis, 17 Sep 2015 12:32 WIB
Ingin Hamil Lagi? Sebaiknya Tunggu Hingga Anak Berusia 2 Tahun
Foto: Thinkstock
California, AS - Lahirnya seorang anak tentu memberi kebahagiaan bagi kedua orang tuanya. Namun Anda sebagai orang tua harus memerhatikan jarak antar kehamilan jika ingin memiliki anak lagi. Sebab, sebuah penelitian terbaru menyatakan bahwa jeda antar kehamilan yang terlalu dekat mampu meningkatkan risiko anak terlahir dengan autisme.

"Jarak kehamilan yang kurang dari dua tahun atau lebih dari enam tahun memiliki dua hingga tiga kali lipat peningkatan risiko lahirnya anak yang didiagnosis dengan autisme," kata peneliti Lisa Croen yang juga merupakan direktur program penelitian autisme di divisi penelitian Kaiser Permanente, California, seperti dikutip dari Medicine Net, Kamis (17/9/2015).

Croen mengatakan bahwa temuan ini memberikan dukungan pada rekomendasi World Health Organization (WHO) agar pasangan suami istri menunggu setidaknya dua tahun setelah anak pertama lahir, sebelum mencoba kehamilan berikutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Hamil Lagi Kurang dari Setahun, Risiko Osteoporosis Meningkat 4 Kali Lipat

Penelitian yang dipublikasikan secara online pada 14 September lalu ini menganalisis sekitar 45.000 ulasan catatan medis milik sejumlah anak kedua yang lahir antara tahun 2000 hingga 2009 di rumah sakit Kaiser Permanente, California.

Para peneliti mengalisis kode genetis yang mencakup diagnosis kondisi autisme yang dapat berkisar dari ringan sampai parah. Tim peneliti juga melihat pada interval interpregnancy, yang didefinisikan sebagai jarak waktu sejak kelahiran pertama hingga saat pembuahan anak kedua.

Dari data tersebut, ditemukan bahwa sebagian besar anak pertama lahir tanpa memiliki diagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD). Di mana diagnosis ASD pada anak pertama ini hanya terjadi pada 878 kasus.

Selanjutnya, para peneliti menganalisis kelompok anak lainnya yang tidak memiliki saudara yang lebih tua pengidap ASD. Pada kelompok anak ini, risiko autisme mencapai 1,5 sampai tiga kali lebih tinggi jika pembuahan anak kedua terjadi kurang dari 24 bulan atau lebih dari 72 bulan. Diketahui pula bahwa jarak kehamilan yang kurang dari enam bulan memiliki risiko tertinggi pada autisme.

Selanjutnya, para peneliti melakukan analisis sekunder dari kelompok anak kedua yang memiliki saudara pertama yang mengidap ASD. Peneliti menemukan pola yang sama, yaitu jarak masa kehamilan anak pertama dengan pembuahan anak kedua yang terlalu pendek atau terlalu panjang mampu meningkatkan risiko diagnosis ASD.

Baca juga: Harus Ada Jeda Waktu Jika Ibu Berencana Hamil Usai Operasi Bypass Lambung

Sebelumnya, sudah banyak penelitian yang mampu menganalisis jarak antar kehamilan dan meneliti efek panjang yang disebabkan oleh hal tersebut. Dr David Mendez, seorang neonatologist di Rumah Sakit Nicklaus Anak di Miami mengungkapkan bahwa beberapa penelitian menemukan bahwa interval yang terlalu pendek membuat anak berisiko menalami gangguan kejiwaan, seperti skizofrenia.

Meskipun penelitian ini tidak menemukan hubungan sebab akibat antara jarak kehamilan dan anak dengan autisme, namun pada penelitian ini ditemukan adanya kaitan antara dua hal tersebut.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, satu dari 68 anak-anak di AS memiliki gangguan spektrum autisme di mana anak laki-laki lebih berisiko dibandingkan anak perempuan.Sementara faktor genetik dan lingkungan memainkan peran besar dalam kondisi autisme yang akan memengaruhi masalah dengan komunikasi dan sosialisasi si anak. (vit/vit)

Berita Terkait