Meski bisa membunuh sel kanker, sayangnya ada juga efek negatif dari radioterapi ini. Karena sinar ditembakkan di pada satu bagian, maka sel-sel sehat tubuh di tempat yang sama juga akan ikut hancur bila dilakukan terlalu sering. Oleh karena itu biasanya radioterapi tak digunakan sendirian saja tapi juga disertai terapi lainnya seperti kemoterapi dan operasi.
Berkaitan dengan kekurangan tersebut, ada satu bentuk radioterapi yang lebih maju bernama tomoterapi. Dijelaskan oleh Konsultan Senior Onkologi Radiasi di Mount Elizabeth Hospital dr Lee Kim Shang bahwa pada tomoterapi wilayah tembakkan radiasi bisa diperkecil sedemikian rupa sehingga meminimalkan kerusakan di sel-sel sekitar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi sel tumor dan sel sehat dalam tubuh kita sebetulnya bisa memperbaiki diri, namun kecepatan pemulihannya berbeda. Sel tumor lebih lambat pulih karena kita berikan tembakkan radiasi, dan saat sel sehat sudah selesai memperbaiki diri kita berikan tembakkan lagi. Itu begitu terus sampai akhirnya sel tumor mati duluan daripada sel sehatnya," kata dr Lee ketika ditemui pada seminar di Mount Elizabeth Hospital, Singapura, dan ditulis pada Sabtu (24/10/2015).
"Radiasi ini tak diberikan secara merata di seluruh area, dengan tomoterapi anda bisa mengubah-ubah intensitasnya," lanjut dr Lee.
Untuk tumor kecil, dr Lee mengatakan dengan tomoterapi mungkin bisa saja pasien cukup sekali datang. Untuk tumor yang berukuran sedang pasien bisa datang beberapa kali sampai sekitar 10 hari. Sementara itu untuk kasus yang cukup parah tomoterapi dengan bantuan terapi lain bisa sampai enam minggu.
"Kalau tumornya cukup kecil bisa kita selesikan dengan cepat. Tapi kalau tumornya agak besar maka akan kita pecah-pecah, kurangi dosis radiasinya," tutup dr Lee.
Baca juga: Sinar Radiasi Radioterapi Salah 'Tembak', Ini Efeknya
(fds/up)











































