Pakai Obat Darah Tinggi, Ilmuwan Bisa Tekan Reaksi Fobia

Pakai Obat Darah Tinggi, Ilmuwan Bisa Tekan Reaksi Fobia

Firdaus Anwar - detikHealth
Senin, 14 Des 2015 17:05 WIB
Pakai Obat Darah Tinggi, Ilmuwan Bisa Tekan Reaksi Fobia
Foto: admn
Jakarta - Ada berita baik bagi mereka yang punya fobia tertentu karena tampaknya ilmuwan telah berhasil menemukan cara yang bisa dipakai untuk menekan rasa takut. Dengan demikian diharapkan ke depan dampak emosi seseorang karena fobianya dapat hilang.

Studi yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of Amsterdam menunjukkan bahwa orang dengan fobia laba-laba bisa menunjukkan perilaku yang berbeda saat diberikan obat propranolol. Obat tersebut digunakan secara luas untuk kondisi darah tinggi dan termasuk golongan beta blocker.

Pemimpin studi Dr Merel Kindt dari departemen psikologi mengatakan bahwa studi terinspirasi oleh teori 'rekonsolidasi' oleh Dr Joseph LeDoux 15 tahun yang lalu. Intinya adalah ketika sebuah memori (dalam hal ini rasa takut terhadap sesuatu) teraktifkan, ia bisa dimodifikasi secara fundamental diperkuat atau dilemahkan dengan pemberian obat tertentu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Fobia Tak Lazim: Takut Hamil Hingga Takut Saat Lihat Orang Lain Sakit

Kepada 45 partisipan dengan fobia laba-laba, Kindt menggunakan obat propranolol untuk menginduksi amnesia. Caranya partisipan dibagi menjadi dua kelompok dan kemudian keduanya dihadapkan pada laba-laba baru di minta untuk meminum obat dengan satu kelompok meminum obat bohongan sebagai kontrol.

Bagi mereka yang menerima propranolol, terlihat ada perubahan drastis pada sikap menolak laba-laba. Partisipan tak kesulitan dekat secara fisik dengan hewan dan efek ini disebut peneliti bisa bertahan sampai setahun kemudian.

"Di sini kita menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa obat amnesia yang diberikan bersamaan dengan pengaktifan memori dapat mengubah perilaku menghindar jadi perilaku mendekat pada orang-orang dengan fobia laba-laba. Cara baru ini lebih mirip operasi daripada terapi," ujar Kindt dalam keterangan pers dan dikutip dari Daily Mail pada Senin (14/12/2015).

"Saat ini pasien dengan gangguan kecemasan dan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder -red) harus melakukan banyak terapi perilaku kognitif atau minum obat rutin agar bisa mengurangi gejalanya. Intervensi yang diajukan ini hanya melibatkan konsumsi obat sekali saja dengan efek drastis yang bertahan lama," lanjutnya.

Studi terkait telah dipublikasi di jurnal Biological Psychiatry dan banyak peneliti dunia lain berkomentar bahwa apa yang dilakukan oleh Kindt mungkin saja kedepan mengubah praktik psikoterapi.

Baca juga: Tak Lagi Takut Laba-laba Setelah Otaknya Dibobol (fds/up)

Berita Terkait