Meski sebagian besar tanda lahir bayi tak berbahaya dan akan hilang seiring bertambah dewasanya anak, ada jenis tanda lahir yang membutuhkan perhatian khusus. Salah satunya adalah giant congenital nevus, atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai tanda lahir raksasa.
"Berbeda dengan tanda kebiruan yang ada di bokong dan punggung bayi atau yang kita kenal sebagai mongolian spot, kalau modelnya nevus semacam nevus ota atau giant congenital nevus ini tidak bisa hilang sendiri," tutur dr Rachel Djuanda, SpKK dari RSU Bunda Menteng, kepada detikHealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Contoh kasus giant congenital nevus terjadi baru-baru di Tiongkok. Seorang bayi perempuan bernama Wu Zimiao terlahir dengan Giant Congenital Nevus. Karena kondisi ini, hampir sekujur tubuh Zimiao dipenuhi oleh belang hitam.
Bahkan di lengan kirinya, belang hitam hampir menutupi seluruh bagiannya. Belum diketahui sebabnya, lengan kiri Zimiao pun menjadi lebih kecil dibandingkan lengan kanannya.
dr Rachel mengatakan biasanya giant congenital nevus tidak berbahaya. Pengobatan bisa dilakukan dengan operasi laser atau pengangkatan nevus, tergantung kondisi dan keparahan penyakit.
"Tapi kalau giant congenital nevus munculnya banyak, bisa jadi merupakan kumpulan tumor jinak. Ini harus diwaspadai karena bisa saja merupakan sindrom dari penyakit yang lebih berat," paparnya.
Situs WebMD menyebut peluang anak mengidap giant congenital nevus sangat jarang, hanya 1 dari 50.000 kelahiran di dunia. Berbeda dengan nevus atau tanda lahir lainnya yang bisa terjadi pada 1 dari 100 kelahiran.
Kondisi ini disebut dapat berpengaruh terhadap perkembangan otak bayi dan sistem sarafnya. Pada kondisi khusus, munculnya giant congenital nevus bisa menandakan adanya komplikasi pada jaringan saraf.
Baca juga: Unik! Bayi Laki-laki Ini Punya Tanda Lahir Berbentuk Hati di Kaki (mrs/vit)











































