Seperti dikutip dari Prevention, Rabu (18/5/2016), faktanya tubuh tidak bekerja dengan cara selektif mencerna makanan tertentu. Meskipun karbohidrat, lemak makanan, dan protein diketahui dapat meningkatkan metabolisme, namun peningkatan tersebut relatif kecil.
Ketika Anda mengonsumsi makanan apapun, metabolisme tetap akan meningkat untuk mencerna dan memanfaatkan kalori dari makanan tersebut untuk berbagai fungsi. Ini disebut 'thermic effect' dan umumnya efek ini berlangsung sementara saja. Jadi, sebenarnya tidak ada satu makanan tertentu yang dapat meningkatkan metabolisme secara ekstrem, apalagi dalam jangka waktu panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teh hijau, cabai, dan seledri merupakan contoh makanan pembakar lemak yang paling sering dikonsumsi. Namun penelitian telah berulang kali menunjukkan bahwa tidak satupun dari asupan-asupan tersebut yang terbukti secara signifikan membakar lemak lebih banyak. "Namun kalori beberapa makanan memang diserap secara berbeda," tutur Baer.
Dalam studinya yang melibatkan konsumsi pistacio, disimpulkan bahwa tubuh tidak menyerap setiap kalori. Sebagian makanan bahkan hanya melewati sistem pencernaan, terutama makanan yang mengandung tinggi serat atau protein.
Menurutnya, mulai saat ini jangan serta-merta percaya bahwa ada beberapa makanan tertentu yang bisa secara signifikan membakar kalori lebih banyak. Dibandingkan mengonsumsi makanan 'pembakar lemak' tersebut dalam porsi besar, lebih banyak perbanyak asupan tinggi serat dan protein jika Anda ingin menurunkan berat badan.
"Jangan lupa selalu sertakan daging atau makanan laut, sayuran dan buah-buahan, dan karbohidrat kompleks setiap kali makan. Ini akan membantu Anda mengonsumsi kalori lebih terkontrol," ujar Bar.
Baca juga: Terdengar Sehat, Asupan Ini Belum Tentu 'Aman' bagi Mereka yang Sedang Diet
(ajg/vit)











































