Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, dr HR Dedi Kuswendha MKes, berpendapat bahwa pemerintah yang bersangkutan memang memiliki awareness akan public health yang cukup tinggi. Sebab, menurut Dedy penggunaan tembakau terkait dengan public health.
"Kan dilihat Ini gimana nanti penggunaan produk tembakau ini. Kalau di kita masih susahlah, ya tahulah bagaimana. Tapi bagaimana pun PHW bahkan penggunaan plain packaging (kemasan polos di bungkus rokok) tetap kita perjuangkan," kata Dedi di Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Dedi menyebut bakal mendorong supaya tujuan tersebut tercapai salah satunya dengan melibatkan berbagai aliansi guna melakukan pendekatan.
Sebelumnya, Tara Singh Bam Dari The Union Asia Pacific menyebutkan di negaranya, Nepal, PHW sudah digunakan di 90 persen bungkus rokok. Indonesia dengan cakupan PHW 40 persen di bungkus rokok menempati urutan terakhir dari 13 negara di ASEAN.
Baca juga: Begini Terapi yang Diterima Pecandu Rokok di Klinik Berhenti Merokok
"Rokok yang diproduksi di Indonesia dan dikirim ke Nepal menggunakan PHW sampai 90 persen kemasan. Mari kita usahakan bersama supaya di Indonesia PHW bisa mengcover setidaknya 75 persen dari bungkus rokok di tahun 2016. Atau akan lebih baik jika bisa mencapai plain packaging," kata Tara.
Ia mengatakan, dengan kebijakan politik yang tepat, di Nepal menggunakan PHW minimum 75 persen untuk menutupi bungkus rokok. Tara menekankan untuk mencapai hal itu memang tidak mudah karena menurutnya, di negara manapun kekuatan industri rokok sama saja.
"PHW bisa membawa perubahan signifikan. Di Thailand 9 dari 10 orang yang memerhatikan PHW mengurungkan niatnya merokok dan 6 dari 10 orang berhenti merokok karena selalu melihat PHW di kemasan rokoknya," kata Tara.
Baca juga: Peluang Indonesia Terapkan Plain Packaging pada Bungkus Rokok (rdn/up)











































