Tak Ada Gejala Khas, Ini Saran Dokter Agar CML Tak Telat Ditangani

Tak Ada Gejala Khas, Ini Saran Dokter Agar CML Tak Telat Ditangani

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 22 Sep 2016 17:31 WIB
Tak Ada Gejala Khas, Ini Saran Dokter Agar CML Tak Telat Ditangani
Foto: Thinkstock
Jakarta - Chronic Myeloid Leukemia (CML) atau dalam bahasa Indonesia disebut Leukemia Granulositik Kronik (LGK) merupakan kanker darah di sumsum tulang akibat aktivasi gen Bcr-Abl.

CML termasuk dalam jenis kanker darah. Gejala yang dialami bisa berupa lemas, berat badan turun drastis, perut begah akibat limpa membengkak, nyeri tulang, dan demam berulang. Namun, tak ada gejala khas CML.

Untuk itu, ahli hematologi onkologi medik RS Kanker Dharmais, dr Hilman Tadjoedin SpPD, KHOM, menyarankan jika mengalami gejala seperti itu, tak ada salahnya pasien ke dokter. Kemudian, akan lebih baik jika dilakukan pemeriksaan darah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau hasilnya terlihat peningkatan sel darah putih, Anda sudah cari second, third, atau bahkan fourth opinion tapi hasilnya masih begitu, minimal berobatlah ke dokter penyakit dalam," kata dr Hilman dalam diskusi media SEHATi Bersama di Rock Hall, Fx Sudirman, Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Ia melanjutkan, ketika pasien datang berobat, akan dilakukan pemeriksaan darah rutin kemudian pemeriksaan yang lebih detail melalui tes Polymerize Change reaction (PCR). Pada prosedur ini, satu gen yang dicurigai sebagai penyebab CML dan sudah diidentifikasi akan dibesarkan sehingga deteksinya akan lebih mudah. Memang, biaya untuk tes ini tidak murah. Saat ini tarifnya bisa sekitar Rp 2,8 juta.

Baca juga: Pada Beberapa Orang, Gejala Leukemia Bisa Tak Terdeteksi

"Bisa dikatakan, granulosit atau bagian sel darah putih yang memiliki karakteristik sel dengan inti hanya ini biang keroknya. Pada pasien CML, kromosom 9 dan kromosom 22 mengalami translokasi, ini yang disebut kromosom Phiadelphia. Nah, kromosom ini menghasilkan protein abnormal yang disebut Bcr-Abl," terang dr Hilman.

Protein ini, lanjut dr Hilman, memberi sinyal ke sumsum tulang untuk tetap memproduksi sel darah putih yang abnormal. Selama pengobatan, tes PCR juga dilakukan tiap 3 bulan sekali untuk mengetahui kadar jumlah (ekspresi) protein Bcr-Abl. Dalam kurun waktu 12 atau 18 bulan diharap kadar Bcr-Abl sudah kurang dari 0,1 persen. Target berikutnya yakni agar Bcr-Abl tidak terdeteksi atau kadarnya di bawah 0,0032.

Penggunaan obat seperti Imatinib mesylate misalnya berfungsi untuk membasmi peningkatan berlebih tyrosin kinase inhibitor yang bisa mengaktifkan protein Bcr-Abl. CML terbilang penyakit yang cukup langka di mana 1-2 orang per 100 ribu penduduk dunia terdiagnosis CML tiap tahunnya.

Baca juga: Langka dan Berbahaya, Apa Sih Penyebab CML? (rdn/up)

Berita Terkait