Selain Cek Fisik, Evaluasi Psikologi pun Penting dalam Tata Laksana Pasien

Selain Cek Fisik, Evaluasi Psikologi pun Penting dalam Tata Laksana Pasien

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 12 Okt 2016 16:41 WIB
Selain Cek Fisik, Evaluasi Psikologi pun Penting dalam Tata Laksana Pasien
Foto: thinkstock
Jakarta - Lumrah adanya ketika seseorang mengalami sakit atau gangguan pada fisiknya, lalu ia memeriksakan diri ke dokter. Nah, dalam pemeriksaan fisik itu, tak bisa dikesampingkan pentingnya evaluasi psikologi.

Seperti disampaikan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiatri Dr dr Nurmiati Amir SpKJ(K), pada orang yang mengalami gangguan fisik lalu datang ke dokter, biasanya evaluasi psikologi dilakukan. Karena, menurut wanita yang akrab disapa dr Eti ini, penyakit apapun akan berdampak pada jiwa.

"Misal orang tua yang suka merasa nyeri. Nyeri itu nanti bisa timbulkan depresi. Jadi hampir selalu dilakukan evaluasi kejiwaan pada penyakit fisik, terutama pada orang tua. Karena orang tua umumnya lebih banyak mengalami penyakit fisik dibanding orang usia muda. Orang tua juga lebih rentan mengalami masalah dengan psikisnya," tutur dr Eti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Studi: Dokter Lebih Ramah pada Pasien Kurus

Kepada wartawan baru-baru ini, wanita berkerudung itu menambahkan evaluasi psikologi seyogianya sudah diketahui dokter. Ia mengatakan, dalam pendidikan kedokteran selalu ada penapisan untuk gangguan jiwa. Sebab, bagaimanapun kondisi fisik seseorang berpengaruh dengan kondisi kejiwaannya.

Sebut saja ketika orang yang selalu mengeluh nyeri kemudian sulit tidur, jika tak segera ditangani dikatakan dr Eti bisa saja yang bersangkutan depresi. Kemudian saat pasien lansia mengalamai gangguan pernapasan hingga napasnya sesak, bisa pula ia cemas sampai depresi.

"Jadi sebenarnya dalam bidang kedokteran umum, melihat manusia itu secara komprehensif. Ketika orang dengan diabetes datang berobat contohnya, sudah seharusnya selalu ditanya perasan ibu seperti apa, apa ada yang dikhawatirkan. Dengan begitu bisa terjaring gangguan jiwa yang mungkin dialami si pasien," pungkas dr Eti.

Baca juga: Waktu Konsultasi Dokter Idealnya 20 Menit per Pasien


(rdn/up)

Berita Terkait