Jakarta -
Kurangnya informasi membuat mitos seputar air minum dan hidrasi masih populer di masyarakat. Akibatnya, angka kejadian dehidrasi di masyarakat masih cukup tinggi.
Padahal kita tahu, dehidrasi dapat menyebabkan beragam masalah kesehatan, mulai dari ringan seperti mulut dan kulit kering, hingga gangguan irama jantung dan tekanan darah menurun ketika sudah pada tahap berat.
"Tubuh kita ini lebih dari 60 persennya cairan. Makanya kecukupan minum air itu penting, dan termasuk dalam piramida gizi seimbang," tutur dr Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK dari Indonesia Hydration Working Group (IHWG), baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, apa saja mitos soal hidrasi yang sudah terbantahkan oleh ilmu kedokteran? Dirangkum detikHealth, berikut 4 di antaranya:
Baca juga: 8 Gejala Dehidrasi yang Sering Tidak Disadari (2)
1. Kurangi asupan air di ruangan ber-AC
Foto: Thinkstock
|
Berada di ruangan ber-AC atau di tempat dengan udara dingin memang membuat kita jarang haus. Namun menurut dr Diana, bukan berarti asupan cairan kita harus dikurangi.
"Padahal terbalik. Di ruangan ber-AC kelembapan udaranya rendah. Air malah lebih mudah menguap lewat kulit, meskipun kita jarang berkeringat. Makanya kita malah butuh minum lebih banyak jika berada di ruangan ber-AC," ungkapnya.
2. Air yang diminum dibuang pada hari yang sama
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Banyak minum air memang membuat seseorang lebih sering kencing. Namun menurut dokter, air yang keluar belum tentu air yang diminum pada hari yang sama.
"Ketika diminum, air langsung masuk ke siklus pencernaan sebelum menjadi plasma darah. Setengah dari asupan air hari ini keluar setelah 10 hari. Di sisi lain, tetes air terakhir yang kita minum hari ini bisa keluar hingga 50 hari ke depan," papar dokter yang juga pengajar di FKUI-RsCM ini.
3. Tidak ada air yang keluar ketika berenang
Foto: thinkstock
|
Anggapan berenang tidak mengeluarkan cairan dikatakan dr Diana sama sekali tidak benar. Memang sekilas tubuh tidak terasa berkeringat saat berenang, namun cairan tetap keluar melalui napas dan kulit.
"Jadi walaupun olahraganya berenang, tetap harus minum air yang cukup supaya tidak dehidrasi," ungkapnya lagi.
4. Air oksigen lebih baik daripada air tanah
Foto: Getty Images
|
Air oksigen sejatinya tidak memiliki perbedaan dengan air tanah ketika diminum. Hal ini karena oksigen yang dimasukkan dalam botol kemasan akan keluar sesaat setelah tutup kemasan dibuka.
"Sementara yang bisa menyerap oksigen secara langsung itu kan paru-paru, bukan saluran cerna. Makanya minum air oksigen tidak akan membuat tubuh lebih bertenaga dan sebagainya," pungkasnya.
Berada di ruangan ber-AC atau di tempat dengan udara dingin memang membuat kita jarang haus. Namun menurut dr Diana, bukan berarti asupan cairan kita harus dikurangi.
"Padahal terbalik. Di ruangan ber-AC kelembapan udaranya rendah. Air malah lebih mudah menguap lewat kulit, meskipun kita jarang berkeringat. Makanya kita malah butuh minum lebih banyak jika berada di ruangan ber-AC," ungkapnya.
Banyak minum air memang membuat seseorang lebih sering kencing. Namun menurut dokter, air yang keluar belum tentu air yang diminum pada hari yang sama.
"Ketika diminum, air langsung masuk ke siklus pencernaan sebelum menjadi plasma darah. Setengah dari asupan air hari ini keluar setelah 10 hari. Di sisi lain, tetes air terakhir yang kita minum hari ini bisa keluar hingga 50 hari ke depan," papar dokter yang juga pengajar di FKUI-RsCM ini.
Anggapan berenang tidak mengeluarkan cairan dikatakan dr Diana sama sekali tidak benar. Memang sekilas tubuh tidak terasa berkeringat saat berenang, namun cairan tetap keluar melalui napas dan kulit.
"Jadi walaupun olahraganya berenang, tetap harus minum air yang cukup supaya tidak dehidrasi," ungkapnya lagi.
Air oksigen sejatinya tidak memiliki perbedaan dengan air tanah ketika diminum. Hal ini karena oksigen yang dimasukkan dalam botol kemasan akan keluar sesaat setelah tutup kemasan dibuka.
"Sementara yang bisa menyerap oksigen secara langsung itu kan paru-paru, bukan saluran cerna. Makanya minum air oksigen tidak akan membuat tubuh lebih bertenaga dan sebagainya," pungkasnya.
(mrs/vit)