Menanggapi hal ini, psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi, Sri Juwita Kusumawardhani M.Psi., Psikolog mengatakan pada dasarnya seseorang butuh support system yakni orang-orang yang dapat menguatkan dirinya. Wanita yang akrab disapa Wita ini menyebutkan support system layaknya investasi.
"Ibaratnya jangan sampai telur kita ditaruh di satu tempat semuanya. Kalau kita cuma punya keluarga, kalau ada apa-apa sama keluarga, kita ke siapa larinya. Kalau kita belum berkeluarga masa mau sendirian aja. Padahal itu (bersosialisasi dengan orang lain) juga bisa aja buka jalan kita ketemu jodoh atau karir yang lebih baik," tutur Wita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berangkat dari pengalamannya, Wita menyebutkan cukup banyak seseorang di usia 20-an atau 30-an awal yang tidak punya teman dekat dan mereka cenderung memendam perasaannya sendiri hingga merasa stres. Terutama ketika belum memiliki pasangan, segala hal dipendam sendiri olehnya. Manifestasinya pun dikatakan Wita bermacam-macam.
Baca juga: Mengapa Curhat Bisa Melegakan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ada yang mengalami serangan panik, kecanduan pornografi, bahkan sakit fisik. Hal ini, kata Wita, tak lepas dari prinsip bahwa sebenarnya seseorang memiliki kebutuhan afeksi (kasih sayang) hingga ia pun ingin memiliki teman.
"Mungkin ada yang temennya itu ibunya, ya nggak apa-apa. Tapi maksudnya kayak remaja terus usia 20-an, sepanjang hidup kita kan kita pasti butuh teman. Memang nggak harus yang dekat banget, sahabat gitu ya. Karena susah juga misalnya kayak satu geng barengan terus. Karena nanti fase perkembangan manusia kan nggak bisa bareng-bareng," tambah wanita yang juga praktik di Lembaga Psikologi Terapan UI ini.
Namun, yang penting ada dukungan bagi seseorang. Wita menuturkan, jika seseorang sulit memiliki teman yang amat dekat, minimal jalinlah pertemanan dengan rekan kerja di kantor, sesama anggota komunitas misalnya, atau bahkan teman di lingkungan rumah.
"Nggak terlalu dekat tapi banyak. Ada teman buat taubat ibaratnya, ke pengajian misalnya, terus buat jalan-jalan, ya nggak apa-apa. Jadi kalau kita cerita pun dibagi-bagi ceritanya," tutur Wita.
Baca juga: Menyikapi Teman Lawan Jenis yang Curhat Masalah Rumah Tangganya (rdn/vit)











































