detikhealth

Doctor's Life

Kisah drg Dewi Natalia Menghadapi Pasien Bergigi Merah

Suherni Sulaeman - detikHealth
Sabtu, 06/05/2017 08:12 WIB
Kisah drg Dewi Natalia Menghadapi Pasien Bergigi Merahdrg Dewi Natalia, dokter gigi yang mengabdi di Puskesmas perbatasan (Foto: Suherni/detikHealth)
Atambua, Menghadapi pasien dengan gigi kekuningan mungkin sudah biasa bagi dokter gigi. Tapi bagaimana jika pasiennya bergigi merah? Inilah pengalaman yang pernah dialami drg Dewi Natalia Manto saat bertugas di daerah perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Ya, masyarakat setempat masih banyak yang memiliki kebiasaan makan pinang dan sirih. Kebiasaan ini tentu meninggalkan noda-noda merah bekas pinang sirih di mulut, terutama di gigi mereka. Hal ini membuat kebanyakan pasien bergigi merah jadi malu-malu saat membuka mulut untuk diperiksa.

"Efek dari si pinang, itu kan dia pewarnaan, kemudian periodontitis, kadang lucunya ini pasiennya malu, 'aduh dokter tapi saya makan sirih pinang, saya malu sekali, saya tidak mau dibuka, lah gimana saya mau periksa," ucap drg Dewi yang mengabdi di Atambua, khususnya di Desa Silawan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur ini sambil tertawa.

"Kalau sisa-sisanya itu masuk ke sela-sela gusi itu yang bikin debris-debris, kemudian jadi kalkulus atau karang gigi. Nah, gusinya itu turun kan perjalanan periodontitis," tambah anak kedua dari empat bersaudara ini.

Lalu bagaimana awalnya perempuan asal Ambarawa, Jawa Tengah ini bisa sampai bertugas di Atambua? "Saya kan ke Atambua ini ikut suami. Bulan Agustus 2016 saya apply di dinas kesehatan Belu, baru saya dapat SK ditempatkan di Puskesmas Silawan," tutur alumnus Universitas Padjajaran, Bandung ini.

Dinas di luar Jawa sebenarnya bukan pengalaman baru. Sebab sang ayah yang dulunya sebagai dokter umum pegawai tidak tetap di provinsi NTT.

Baca juga: Kisah dr Diana Mengupayakan Anaknya Sembuh dari Autisme

Nah, sebagai dokter gigi satu-satunya yang bertugas di Puskesmas Silawan, tentu drg Dewi memiliki tantangan tersendiri yaitu bahasa. Sehingga sering kali ia membutuhkan pendamping dari lokal untuk membantu menerjemahkan.

"Tapi makin ke sini sudah tahu sedikit-sedikit. Suami orang sini asli," ucap drg Dewi.

Perempuan usia 26 tahun ini rela bolak-balik dari rumah ke puskesmas dengan jarak tempuh 20 km menggunakan sepeda motor meski akses jalan rawan terjatuhnya batu-batu, terlebih saat hujan turun. "Kalau misalnya hujan ini kan di daerah situ suka ada batu-batu jatuh. Saya kan pakai motor, licin," kata drg Dewi yang juga praktik di RS Tentara Wirasakti, Atambua.

Tidak seperti di kota besar yang kini sudah banyak menyediakan fasilitas-fasilitas menarik untuk memudahkan aktivitas. Berbeda dengan Desa Silawan, daerah perbatasan RI dan Timor Leste, yang hanya menyajikan pemandangan pohon-pohon dan jalanan yang sepi. Tentu ini membuat drg Dewi tidak banyak melakukan kegiatan lain selain memeriksakan gigi pasien dan memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah.

"Cuma kalau aku sih karena anak dan suami di sini jadi itu yang jadi motivasi dan semangat ndak gitu sedih-sedih juga," tandas drg Dewi.

Baca juga: dr Toni dan Ceritanya Sering Evakuasi Pasien Lewat Sungai karena Longsor

(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit