detikhealth

Ada Koyo Alternatif untuk Kemoterapi Kanker Payudara Bikinan Unair Lho

Marwah Zada Rahmatina - detikHealth
Minggu, 30/07/2017 15:05 WIB
Ada Koyo Alternatif untuk Kemoterapi Kanker Payudara Bikinan Unair LhoBaru-baru ini mahasiswa Unair Surabaya memperkenalkan inovasi baru dalam pengobatan kanker payudara berupa koyo. (Foto: Ayu Tarantika Indreswari/UNAIR)
Surabaya, Kanker payudara menjadi momok tersendiri bagi wanita, tak terkecuali di Indonesia. WHO dan Kementerian Kesehatan RI mencatat di tahun 2013, kanker payudara menjadi penyebab kematian tertinggi kelima akibat kanker.

Untuk mengurangi ketakutan tersebut, para ilmuwan mencoba mengembangkan berbagai pengobatan untuk pasien kanker payudara, yang dibuat seefisien dan seefektif mungkin.

Salah satunya peneliti muda yang juga sekumpulan mahasiswa Pendidikan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Airlangga ini. Baru-baru ini mereka memperkenalkan inovasi baru dalam pengobatan kanker payudara berupa Patch Transdermal atau yang lebih dikenal dengan sebutan koyo.

Koyo ini mengandung Doxorubixin, obat yang termasuk ke dalam lini pertama terapi kanker payudara.

Kepada detikHealth, ketua tim peneliti dari Universitas Airlangga ini menjelaskan bahwa inspirasi untuk membuat koyo terapi kanker payudara ini datang dari mata kuliah yang mereka ambil mengenai sistem penghantaran obat.

Koyo terapi kanker payudara bikinan mahasiswa UNAIRKoyo terapi kanker payudara bikinan mahasiswa UNAIR Foto: Ayu Tarantika Indreswari/UNAIR

Dari mata kuliah ini mereka memperoleh wawasan bahwa banyak pasien kanker yang enggan menjalani kemoterapi karena efek samping yang akan mereka dapatkan seperti rambut rontok dan ketidaknyamanan di badan selepas terapi.

Baca juga: Kisah Lily Kehilangan Payudara karena Takut Berobat ke Dokter

"Lalu kami browsing untuk bahan obatnya dan alhamdulillah kami melihat ada peluang untuk pengembangan yang bisa berguna untuk mengatasi kanker payudara," ungkap Ayu Tarantika Indreswari, Ketua kelompok PKM-PE Patch Transdermal Doxorubicin Universitas Airlangga Surabaya saat dihubungi baru-baru ini.

Untuk mengembangkan koyo ini, Ayu dibantu oleh keempat temannya, yakni Vita Fitria Ramadhani, Nurul Azizah, Galuh Damar Buana, dan Beatrice, serta didampingi oleh dosen pembimbing Lusiana Arifianti S.Farm, M.Farm, Apt. Harapannya, ketika pengobatan dilakukan dengan metode sederhana seperti ini, maka akan lebih banyak pasien yang terbantu.

Ditambahkan Ayu, koyo ini terbuat dari PVA (Polyvinyl Alcohol) dan EC (Etyl Cellulose) yang kemudian 'diisi' oleh Doxorubicin.

Baca juga: Renita Sukardi Meninggal, Mengapa Kanker Payudara Bisa Mematikan?

Ayu mengatakan kelebihan koyo ini terletak pada kemudahan dalam penggunaannya dan tidak membuat pasien merasakan nyeri. Selain itu, koyo dapat ditempel dekat dengan jaringan yang terserang kanker payudara, artinya targetnya menjadi lebih spesifik dan mengurangi risiko efek samping yang ada.

Kalaupun terjadi tanda-tanda alergi, koyo ini juga tinggal dilepas saja dari kulit si pasien.

Koyo ini bekerja untuk menghambat penyebaran sel-sel kanker payudaraKoyo ini bekerja untuk menghambat penyebaran sel-sel kanker payudara Foto: Ayu Tarantika Indreswari/UNAIR

Lantas bagaimana cara kerjanya? Koyo yang dikembangkan sejak bulan September 2016 ini berfungsi untuk menghambat replikasi sel kanker yang ada dalam tubuh.

"Kanker secara definitif kan perkembangan abnormal jaringan sel, jadi dicegah biar tidak merembet dan semakin ganas. Logikanya jika patch ini ditempel pada lokasi tentunya akan lebih dekat dengan site action dari sel kanker payudara ini. Makanya dikaji dan coba dikembangkan melalui rute transdermal ini," jelas mahasiswi asal Trenggalek ini.

Ayu semakin yakin dengan 'khasiat' koyo yang dikembangkan timnya karena telah memenuhi 3 dari 4 indikator keberhasilan produk, yaitu keamanan (safety), stabilitas (stability) dan penerimaan (acceptability), dengan tingkat keberhasilan sementara mencapai 70 persen.

"Untuk mendekati angka 100% dibutuhkan waktu yang cukup lama karena patch ini belum diuji pada pengidap kanker payudara," tambahnya.

Meski demikian, timnya dianggap telah berhasil memperoleh penghargaan sebagai salah satu gagasan terbaik dalam ajang International Society of Pharmaceutical Engineering (ISPE) di Jakarta pada Mei 2016 lalu.

Bahkan Ayu mengaku inovasinya juga dilirik oleh sebuah perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia. "Kami memang berharap penelitian tidak berhenti sekedar penelitian, tetapi ke depannya dapat benar-benar dikembangkan dan diproduksi dalam skala industri," tutupnya.(lll/mrs)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit