detikhealth

Ingat! Stres Punya Efek Sama Buruknya dengan Makan Junk Food

Suherni Sulaeman - detikHealth
Rabu, 18/10/2017 20:06 WIB
Ingat! Stres Punya Efek Sama Buruknya dengan Makan Junk FoodSangat lumrah jika stres bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Baru-baru ini studi sebut bahwa stres sama berbahayanya dengan makan junk food. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Sangat lumrah jika stres bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Baru-baru ini sebuah penelitian menunjukkan bahwa stres sama berbahayanya dengan makan junk food.

"Kadang-kadang kita menganggap stres sebagai fenomena psikologis murni, tapi ini menyebabkan perubahan fisik yang berbeda," kata Laura Bridgewater, Profesor di Brigham Young University di Utah, AS, seperti dikutip dari Indian Express.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Scientific Reports, melakukan percobaan kepada tikus untuk menunjukkan hubungan tersebut. Ketika tikus betina terkena stres, mikroorganisme di usus berubah menjadi terlihat seperti tikus yang telah diet tinggi lemak.

Bridgewater bersama rekan-rekannya di Shanghai Jiao Tong University, China memberi sekelompok besar tikus jantan dan betina diet tinggi lemak. Semua tikus ini kemudian dikenai stres ringan selama 18 hari.

Baca juga: Kenapa Saat Stres Orang Lebih Tertarik Makanan Manis? Ini Kata Pakar

Para periset menganalisis mikroba usus sebelum dan sesudah stres dengan cara mengekstrak DNA mikroba dari tinja tikus. Mereka juga mengukur kecemasan tikus berdasarkan seberapa banyak dan di mana tikus berada di area lapangan terbuka.

Para periset menemukan perbedaan yang menarik, tikus jantan pada diet tinggi lemak menunjukkan kecemasan lebih banyak dibandingkan tikus betina, dan mengalami penurunan aktivitas sebagai respons terhadap stres. Namun, pada tikus betina, stres menyebabkan komposisi microbiota usus berubah seolah-olah menjalani diet tinggi lemak.

Meski penelitian ini hanya dilakukan pada hewan, peneliti yakin itu bisa berimplikasi pada pola makan dan gaya hidup manusia. "Di masyarakat, wanita cenderung memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi, yang terkait dengan stres," kata Bridgewater.

"Studi ini menunjukkan kemungkinan sumber perbedaan gender adalah berbedanya cara mikrobiota usus merespons stres pada pria dan pada wanita," tambah Bridgewater.

Baca juga: Sulit Menghindari Junk Food? Begini Prosesnya Beralih ke Makanan Sehat

(hrn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit