Berbagai Perasaan dan Emosi Manusia yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Tubuh

Berbagai Perasaan dan Emosi Manusia yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Tubuh

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kamis, 26 Jul 2018 15:26 WIB
1.

Berbagai Perasaan dan Emosi Manusia yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Tubuh

Berbagai Perasaan dan Emosi Manusia yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Tubuh
Foto: Thinkstock
Jakarta - Ada kalanya seseorang merasa sedih atau kecewa. Ada kalanya seseorang juga merasa senang dan bahagia. Perasaan yang muncul, baik positif maupun negatif, rupanya akan berdampak pada tubuh sendiri. Bukan hanya kesehatan fisik saja, perasaan dan emosi juga dapat mempengaruhi kesehatan mental.

Seperti dikutip dari Women's Weekly, berikut macam-macam perasaan yang mempengaruhi kesehatan tubuh dan pikiran Anda. Apa saja itu? Simak selengkapnya di bawah ini:

Ketika seseorang marah, tubuh akan mengalami lonjakan testosteron dan juga detak jantung, serta dapat meningkatkan tekanan darah. Selain itu, perasaan marah juga berisiko hampir lima kali lebih mungkin mengalami serangan jantung dalam dua jam setelah ledakan amarah, dan berisiko stroke tiga kali lebih tinggi.

Nah, untuk meredam emosi tersebut, cek diri sendiri apakah Anda dalam kondisi lapar, sebab kelaparan mengurangi kadar serotonin otak yang mempengaruhi kemampuan orang untuk mengatur kemarahannya. Jadi untuk menghindari kehilangan kesabaran, jangan melewatkan waktu makan.

Mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi atau cemas ketika membuat kesalahan bisa memaksa wilayah otak lain untuk bekerja lebih keras. Risiko kesehatan yang terjadi ketika seseorang khawatir adalah otak tidak berfungsi dengan baik pada tugas sehari-hari dan cepat lelah.

Ditambah lagi, mengkhawatirkan sesuatu bisa meningkatkan stres, meningkat risiko penyakit Alzheimer, dan berisiko demensia, khususnya pada wanita. Untuk itu, alihkan pikiran untuk tidak terlalu khawatir secara berlebihan.

Kecemburuan membuat seseirabg buta terhadap benda-benda di garis penglihatannya. Ini karena otak terdistraksi atau terganggu oleh pengolahan pikiran negatif. Itu akan membahayakan diri sendiri apalagi untuk orang yang tugasnya menuntut perhatian atau sedang mengemudi.

Untuk mengontrolnya kembali, penelitian di Belanda menegaskan untuk tidak sering-sering main media sosial. Sebab, penelitian tersebut menemukan bahwa lebih dari 30 persen pengguna media sosial merasa frustrasi ketika mereka mengunjungi Facebook, alasannya adalah iri terhadap postingan teman.

Ketika stres tubuh dibanjiri adrenalin dan norepinefrin, yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Stres jangka panjang ini beralih pada gen yang biasanya menganggu keseimbangan hormon tubuh.

Seseorang yang stres akan mengalami bruxism saat tidur alias menggertakan gigi saat tidur di malam hari. Selain itu, seseorang yang merasa tertekan juga akan lebih banyak mengalami sakit kepala dan lebih mungkin terkena virus. Dalam jangka panjang, stres meningkatkan risiko kehilangan ingatan terkait usia, diabetes tipe 2, penyakit jantung dan depresi.

Melakukan lebih banyak aktivitas fisik seperti latihan atau olahraga dapat menata kembali otak agar lebih tahan terhadap stres, dengan melatihnya untuk secara otomatis mematikan daerah-daerah yang mendorong kecemasan ketika terkena situasi yang menekan.