Hal yang sama berlaku saat seseorang dinyatakan mengalami gangguan mental, atau berperilaku beda dari kebanyakan masyarakat. Keyakinan ini dipatahkan ilmuwan psikologi dan genetik dari University of Texas at Austin Robert Plomin, dalam bukunya yang berjudul How DNA Makes Us Who We Are. Kondisi yang disebut gangguan berawal dari perbedaan genetik secara kuantitatif, yang efeknya bersifat kualitatif dalam kehidupan sosial.
"Dengan kacamata ini gangguan tidak bisa disembuhkan, karena memang tidak ada yang salah dalam susunan DNA" ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Jadi Dokter untuk Diri Sendiri, Mungkinkah? |
Menurut Plomin, hal serupa diterapkan pada pasien skizofrenia dengan Cognitive Behavioral Theraphy (CBT). Terapi tersebut tidak mengatasi penyebab inti gangguan, namun meredakan gejala dan efek lanjutnya pada pasien. Hasilnya, pasien bisa melanjutkan hidup dan bersosialisasi layaknya manusia kebanyakan. Penyebab skizoprenia hingga kini belum diketahui, kecuali dipengaruhi genetik dan lingkungan. Kondisi ini mempengaruhi kimia otak hingga penderita tak bisa membedakan dunia fantasi dan realita.
Dengan fakta ini, Plomin yakin tidak ada batas nyata antara normal dan abnormal. Semua manusia juga terlahir baik dengan kelengkapan struktur dan fungsi DNA. Sayangnya, ekspresi DNA kerap disalahartikan dan menjadi diagnosa yang bersifat sewenang-wenang. Menurut Plomin, lingkungan dan DNA sebetulnya berbagi peran dalam menentukan karakter dan tingkah laku. Tapi pada kenyataannya, 50 persen porsi milik lingkungan didominasi ekspresi rangkaian DNA dalam tubuh.
Plomin mendukung penggunaan spektrum untuk menentukan gangguan kejiwaan, bukan satu jenis diagnosa seperti penyakit fisik. Penggunaan spektrum memberi dimensi lebih luas, yang mempengaruhi jenis terapi pada tiap pasien. Tulisan Plomin memberi pelajaran bagi masyarakat dan dunia medis, untuk tidak memberi stigma atau diagnosa terlalu dini pada pasien gangguan jiwa. Tulisan ini juga kembali menekankan pentingnya bukti medis dan keilmuan untuk menentukan terapi, diagnosa, serta pengobatan pasien.











































