Manusia pada Dasarnya Memang Makhluk Baik

Manusia pada Dasarnya Memang Makhluk Baik

Rosmha Widiyani - detikHealth
Minggu, 30 Sep 2018 11:57 WIB
Manusia pada Dasarnya Memang Makhluk Baik
Ilustrasi sesi konsultasi dengan tenaga kesehatan. Foto: Thinkstock
Jakarta - Masyarakat mungkin telah lama mengenal frase manusia pada dasarnya memang baik. Namun keyakinan pada frase ini bisa dibilang sangat minim, terkait dengan perilaku dan kebiasaan seseorang dalam kesehariannya. Masyarakat selanjutnya yakin lingkungan ikut berpengaruh, bahkan lebih besar dibanding rangkaian genetik dalam tubuh.

Hal yang sama berlaku saat seseorang dinyatakan mengalami gangguan mental, atau berperilaku beda dari kebanyakan masyarakat. Keyakinan ini dipatahkan ilmuwan psikologi dan genetik dari University of Texas at Austin Robert Plomin, dalam bukunya yang berjudul How DNA Makes Us Who We Are. Kondisi yang disebut gangguan berawal dari perbedaan genetik secara kuantitatif, yang efeknya bersifat kualitatif dalam kehidupan sosial.

"Dengan kacamata ini gangguan tidak bisa disembuhkan, karena memang tidak ada yang salah dalam susunan DNA" ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari The Observer, Plomin mencontohkan kejadian depresi pada suatu populasi. Bila ada seribu perbedaan DNA pada kelompok responden tidak dan mengalami depresi, maka pada populasi sebenarnya angka tersebut mencapai 500. Sebagian memiliki lebih banyak yang berisiko lebih besar, namun yang lain lebih sedikit dengan risiko minimal. Yang bisa dilakukan kemudian adalah meredakan gejala yang muncul supaya jangan sampai berefek buruk pada penderitanya.


Menurut Plomin, hal serupa diterapkan pada pasien skizofrenia dengan Cognitive Behavioral Theraphy (CBT). Terapi tersebut tidak mengatasi penyebab inti gangguan, namun meredakan gejala dan efek lanjutnya pada pasien. Hasilnya, pasien bisa melanjutkan hidup dan bersosialisasi layaknya manusia kebanyakan. Penyebab skizoprenia hingga kini belum diketahui, kecuali dipengaruhi genetik dan lingkungan. Kondisi ini mempengaruhi kimia otak hingga penderita tak bisa membedakan dunia fantasi dan realita.

Dengan fakta ini, Plomin yakin tidak ada batas nyata antara normal dan abnormal. Semua manusia juga terlahir baik dengan kelengkapan struktur dan fungsi DNA. Sayangnya, ekspresi DNA kerap disalahartikan dan menjadi diagnosa yang bersifat sewenang-wenang. Menurut Plomin, lingkungan dan DNA sebetulnya berbagi peran dalam menentukan karakter dan tingkah laku. Tapi pada kenyataannya, 50 persen porsi milik lingkungan didominasi ekspresi rangkaian DNA dalam tubuh.

Plomin mendukung penggunaan spektrum untuk menentukan gangguan kejiwaan, bukan satu jenis diagnosa seperti penyakit fisik. Penggunaan spektrum memberi dimensi lebih luas, yang mempengaruhi jenis terapi pada tiap pasien. Tulisan Plomin memberi pelajaran bagi masyarakat dan dunia medis, untuk tidak memberi stigma atau diagnosa terlalu dini pada pasien gangguan jiwa. Tulisan ini juga kembali menekankan pentingnya bukti medis dan keilmuan untuk menentukan terapi, diagnosa, serta pengobatan pasien.

(Rosmha Widiyani/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads