Dilansir dari Time, fokus dan malas sebetulnya memberi manfaat yang sama pentingnya. Fokus memudahkan pekerjaan lekas selesai, sementara malas memungkinkan pikiran menjadi lebih kreatif. Saat malas, pikiran melayang ke masa depan sebesar 48 persen, masa kini sebesar 28 persen, dan masa lalu 12 persen. Sementara sisanya adalah saat pikiran benar-benar kosong, yang kerap menjadi momen lahirnya ide-ide besar.
Dengan opini tersebut, Bailey menyebut malas sebagai seni kehilangan fokus. Saat malas, pastikan pikiran dan fokus tidak terdistraksi komputer, telepon genggam, atau tumpukan dokumen. Berikut beberapa keuntungan yang diperoleh dengan memaksimalkan malas,
1. Istirahat
Saat pikiran beristirahat, maka tubuh dan fokus ikut teralihkan sementara waktu. Perhatian tidak pada satu hal bisa menyimpan energi, yang bisa digunakan untuk fokus pada kesempatan lainnya. Saat pikiran beristirahat pastikan untuk melakukan hal yang menyenangkan, tak perlu energi besar, dan sesuai kebiasaan. Olahraga, melakukan hobi kreatif, dan berpisah dengan telepon genggam sementara bisa merangsang munculnya ide kreatif.
2. Menyusun rencana
Saat pikiran tidak sedang fokus, masa depan cenderung terpikirkan 14 kali lebih sering. Tujuan jangka panjang juga lebih sering terpikir 7 kali lebih sering saat pikiran tidak fokus. Secara alami, malas memungkinkan kita mengingat kembali tujuan dan niat saat memulai suatu agenda.
3. Menggali ide
Pikiran yang tidak fokus mengaitkan kondisi masa lalu, kini, dan nanti tiap subjek. Hal ini memberi inspirasi untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik. Misal, mengingat ide dari buku yang pernah dibaca untuk menyelesaikan masalah saat ini. Menurut pengalaman Bailey, ide besarnya justru kerap datang saat pikiran sedang tidak fokus.
Tonton juga 'Banyak Daki dan Malas Mandi? Ini Risikonya!':
(up/up)