Dalam ilmu psikiatri klasik, kesurupan atau Dissociative Trance Disorder (DTD) dipicu adanya tekanan mental atau sosial yang masuk ke bawah sadar dan gagal diatasi oleh individu yang terjadi karena adanya proses neuropsikologis yang melibatkan beberapa sirkuit di otak.
Ahli bedah saraf dari RS Mayapada, dr Roslan Yusni Hasan menjelaskan kondisi kesurupan massal mulanya adalah kesurupan individual yang kemudian menjadi massal karena ada orang lain yang melihat jadi tersugesti.
"Kesurupan massal menular karena tersugesti, karena dia dapat perhatian, makanya ikutan dia. Nularnya itu dari diri sendiri ya, bukan dari luar. Itu di luar kehendaknya makanya disebut gangguan," tutur dr Ryu, sapaan akrabnya, kepada detikHealth, Rabu (27/3/2019).
DTD bisa terjadi pada satu atau beberapa orang secara bersamaan, saling memengaruhi dan tidak jarang menimbulkan kepanikan bagi sekitarnya.
"Kalau dalam satu kelompok remaja ada seorang yg mengalami kesurupan, yang lain terutama yang punya bakat atau risiko kesurupan, bisa langsung tertular'," terangnya.
dr Ryu menekankan, istilah tertular tidak berarti bahwa ada sesuatu yang pindah dari satu orang ke orang lain, tapi kecenderungan meniru. Kecenderungan meniru diistilahkan sebagi 'neuron cermin' sehingga kesurupan cenderunng bersifat massal.