Sukses Atasi Corona Tanpa Lockdown, Ini Rahasia Hong Kong dan Korsel

Sukses Atasi Corona Tanpa Lockdown, Ini Rahasia Hong Kong dan Korsel

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 23 Apr 2020 13:58 WIB
Seekor anjing peliharaan di Hong Kong dikarantina usai positif virus corona COVID-19. Anjing itu diduga terinfeksi corona dari sang majikan.
Hadapi Corona tanpa lockdown, Hong Kong dan Korea Selatan sukses tangani wabah. (Foto: AP Photo/Kin Cheung)
Jakarta -

Pemerintah Hong Kong melaporkan tidak ada kasus baru dalam 6 pekan terakhir pada Senin (20/4/2020). Berdasarkan laporan worldometers, hingga saat ini Hong Kong mencatat 1.034 kasus akumulatif dengan empat kasus kematian setelah sebelumnya mengumumkan kasus Corona pada 23 Januari lalu.

Mengutip US News, beberapa warga setempat pun mulai menjalani kehidupan seperti biasa. Namun tetap menggunakan masker dan memberlakukan social distancing.

"Kehidupan orang-orang di sini telah kembali normal, kecuali mereka tetap menggunakan masker," kata salah satu pemilik restoran, Wing Fau Yat.

Strategi Hong Kong dalam menghadapi wabah Corona dengan melakukan surveilans intens pada pengunjung yang datang dan warga lokal. Selain itu, tracing dan mengkarantina seluruh kontak dekat dengan pasien positif Corona juga menjadi strategi Hong Kong.

Meski tak menerapkan lockdown, beberapa tempat liburan dan perumahan baru digunakan sebagai fasilitas karantina, dan melakukan ratusan tes setiap harinya mulai awal Maret lalu.

ADVERTISEMENT

Selain Hong Kong, Korea Selatan pun saat ini hanya melaporkan 8 kasus baru. Korea Selatan melakukan langkah cepat dengan memeriksa 15.000 orang per hari, dan lebih dari 300 ribu tes dilakukan secara gratis. Warganya pun dinilai kooperatif dalam menjalani kebijakan pemerintah.

"Tidak seperti negara-negara lain, Korea Selatan tidak memberlakukan lockdown. Orang-orang bebas untuk berjalan-jalan bahkan makan di restoran, meskipun dengan beberapa pembatasan tempat duduk," jelas Kim Ki-hyun, direktur Divisi Manajemen Keselamatan di Pemerintah Seoul, dikutip dari South China Morning Post.




(naf/up)