Dunia berlomba membuat vaksin Corona COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sudah ada lebih dari seratus kandidat vaksin COVID-19 dan beberapa di antaranya dianggap lebih maju dari sisi pengembangan dan tahap uji klinis.
Sebagai contoh di Indonesia ada vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi Sinovac dari China. Rencananya vaksin ini akan mulai uji klinis tahap III dan mulai diproduksi awal tahun 2021.
Berikut detail pengembangan enam vaksin COVID-19 yang saat ini dianggap paling menjanjikan seperti dikutip dari Live Science:
1. AstraZeneca-University of Oxford
Vaksin buatan perusahaan farmasi AstraZeneca dan University of Oxford sudah menjalani uji klinis tahap III di beberapa negara. Vaksin ini terbuat dari virus bernama adenovirus yang sudah dimodifikasi sehingga berisi kode informasi genetik COVID-19.
Adenovirus vaksin ini diambil dari jenis yang menginfeksi simpanse dan tidak bisa menyebabkan penyakit pada manusia.
Secara teori virus akan membuat tubuh belajar menghadapi infeksi COVID-19.
2. Sinovac
Vaksin buatan perusahaan farmasi asal China, Sinovac, juga dilaporkan akan mulai menjalani uji klinis tahap III. Vaksin ini dibuat dari virus penyebab COVID-19 (SARS-COV-2) yang sudah dilemahkan.
Laporan dari uji klinis awal menyebut lebih dari 90 persen responden bisa mengembangkan kekebalan tubuh setelah dua minggu disuntik vaksin ini.
3. Moderna-NIAID
Perusahaan farmasi Moderna bekerja sama dengan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) Amerika Serikat (AS) mengembangkan vaksin COVID-19 hanya dengan menggunakan pecahan materi genetik.
Dalam teori materi genetik bernama messenger RNA (mRNA) ini akan secara langsung 'mengajari' sel tubuh untuk menciptakan kekebalan. Beberapa ahli menerangkan keuntungan vaksin dari metode ini adalah lebih mudah diproduksi, namun lama efek perlindungannya masih dipertanyakan.
4. CanSino-Beijing Institute of Biotechnology
Perusahaan farmasi CanSino bekerja sama dengan Beijing Institute of Biotechnology mengembangkan vaksin COVID-19 dengan memanfaatkan adenovirus yang sudah dimodifikasi. Bedanya dari vaksin yang dikembangkan AstraZeneca-Oxford, vaksin ini menggunakan adenovirus yang bisa menginfeksi manusia.
Vaksin dilaporkan bisa menimbulkan kekebalan tubuh pada sekitar 90 persen partisipan. Meski tidak serius, beberapa responden melaporkan mengalami gejala ringan demam, kelelahan, dan nyeri di lokasi suntikan.
Vaksin rencananya akan mulai menjalani uji klinis tahap III.
5. Sinopharm
Vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi milik pemerintah China (Sinopharm) juga dilaporkan sedang menjalani uji klinis tahap III. Vaksin ini memanfaatkan virus COVID-19 yang sudah dilemahkan atau sering disebut inactivated vaccine.
Laporan media China menyebut vaksin siap diproduksi di akhir tahun 2020.
6. Pfizer-BioNtech-Fosun
Perusahaan farmasi dari tiga negara: Pfizer (AS), BioNtech (Jerman), dan Fosun (China) bekerja sama mengembangkan vaksin Corona dengan metode menggunakan mRNA. Hasil uji klinis tahap I dan II menunjukkan vaksin tidak memiliki efek samping serius dan bisa memicu kekebalan tubuh.
Peneliti menemukan vaksin mereka bisa membuat tubuh responden memproduksi antibodi 1,8 sampai 2,8 kali lebih tinggi daripada pasien Corona yang sembuh alami.
(fds/kna)