Seorang peneliti, Alessandra Barassi, M.D mengamati 143 pria dengan disfungsi ereksi. Hasil pengamatan menunjukkan hampir 50 persen di antaranya mengalami defisiensi atau
kekurangan vitamin D. Kadar vitamin D pada pria dengan disfungsi ereksi, teramati rata-rata 24 persen lebih sedikit.
Dalam laporan ilmiahnya, dr Barassi menjelaskan bahwa kekurangan vitamin D akan memicu produksi radikal bebas bernama ion superoksida. Ion ini menguras nitrat di pembuluh darah, yang dibutuhkan untuk ereksi.
Sebuah penelitian di University of Florence menunjukkan, 16 persen pria bisa mengalami susah ereksi hanya karena kurang privasi. Oleh karenanya, masalah tersebut hanya muncul dalam kondisi tertentu misalnya saat masih tinggal menumpang di rumah mertua atau orang tua.
Psikolog seksual Zoya Amirin menyebut, impotensi bisa terjadi hanya dalam situasi tertentu misalnya cemas, gugup, atau sakit hati. Kondisi tersebut dinamakan impotensi parsial dan lebih berkaitan dengan faktor psikologis, bukan gangguan pada sistem fisiologis.
"Misalnya pernah bertengkar hebat sehingga akhirnya istri mengeluarkan kata-kata kasar, memaki atau yang lainnya. Sehingga ketika akan berhubungan intim, suami teringat hal itu dan akhirnya tak bisa ereksi, kehilangan gairah," kata Zoya.
Kemampuan ereksi berhubungan dengan gaya hidup. Termasuk di antaranya adalah diet dan pola tidur. Gaya hidup tidak sehat menyebabkan kegemukan, lalu memicu berbagai gangguan pada sistem peredaran darah. Ereksi akan lebih sulit terjadi jika aliran darah ke organ genital tidak lancar.
Masih terkait dengan pola hidup sehat, kegemukan adalah salah satu pemicu disfungsi ereksi yang perlu diperhitungkan. Kevin Billups, M.D, seorang urologis dari University of Minnesota menyebut kegemukan bisa merusak pembuluh darah yang menuju penis dan membuatnya susah ereksi. Karenanya, ia selalu meminta pasien yang datang dengan keluhan susah ereksi untuk berdiri dan melihat ke bawah.
"Jika Anda tidak bisa melihat penis Anda, berarti ada masalah," kata Billups seperti dikutip dari CNN.
Penelitian terbaru di Praha mengungkap bahwa hubungan ibu dan anak berkaitan juga dengan risiko disfungsi ereksi. Jika semasa kecil seorang pria tidak akur dengan ibunya, kemungkinan untuk mengalami disfungsi ereksi saat tumbuh dewasa akan lebih besar.
"Selain stres, gangguan psikis lain yang dialami pria seperti hubungan yang tak akur dengan ibunya ternyata juga dapat memicu seorang pria untuk mengalami disfungsi seksual," tutur para peneliti seperti dikutip dari Journal of Sexual Medicine.