Terkait penting tidaknya seorang anak disirkumsisi, setidaknya Anda harus tahu dulu tentang hal-hal mendasar yang berkaitan dengan kulup penis, seperti halnya dikutip dari Medical Daily, Kamis (10/9/2015) berikut ini.
Baca juga: Anak-anak Seperti Ini Butuh Prosedur Sunat yang Tak Biasa
1. Kulup tak dapat ditarik saat masih bayi
Bagi sebagian besar anak laki-laki, kulup baru akan terpisah dari kepala penisnya saat memasuki usia puber. Oleh karena itu prosedur sirkumsisi biasanya dilakukan di usia sekolah dasar, namun tak sampai remaja. Peneliti juga mengingatkan, kulup tak dapat ditarik sendiri, karena jika dipaksakan akan mengakibatkan luka, nyeri atau bahkan munculnya infeksi yang tidak diinginkan.
2. Kadang kulup seperti terbenam
Kulup yang tidak dapat memisahkan diri dari kepala penis biasa disebut fimosis, dan kondisi ini membuat penis seperti terbenam dan/atau tampak kecil. Departemen Urologi University of California, San Fransisco menjelaskan penyebabnya bisa karena retraksi (penarikan) paksa sehingga mengakibatkan infeksi. Penyebab lainnya adalah kegemukan ataupun kelainan pada jaringan ikat di bawah penis.
3. Tak sunat bisa meningkatkan risiko kanker
American Cancer Society pernah mengemukakan, pria yang tidak disunat semasa kecil berisiko lebih besar untuk mengalami kanker penis ketimbang yang disirkumsisi. Dokter menduga pria yang tidak disunat berpeluang lebih tinggi untuk terserang human papilloma virus (HPV) yang selama ini kerap dikaitkan dengan insidensi kanker kemaluan pada pria maupun wanita. Untungnya risiko yang dimaksud tergolong relatif rendah.
4. Sunat mengurangi risiko infeksi HIV
Dari tiga studi yang dilakukan peneliti Afrika membuktikan, sirkumsisi pada anak laki-laki 60 persen efektif mencegah infeksi HIV. Namun di sisi lain, ada peneliti yang menemukan bahwa justru dengan disunat, pria jadi enggan memakai kondom. Terbukti saat wabah AIDS menyerbu AS di tahun 1980-1990an terjadi, 85 persen pria di sana melaksakanan sirkumsisi, namun tetap saja penyakitnya menular.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
5. Pria yang disunat sulit menikmati seks
Di tahun 2013, peneliti dari Belgia membuktikan, pria yang tidak disirkumsisi merasakan sensitivitas penis yang lebih besar ketika berhubungan seks, sehingga mereka mendapatkan orgasme yang lebih intens. Sebaliknya pria yang disunat, lebih sering mengeluhkan nyeri atau mati rasa di sekitar kepala penisnya. Kendati begitu, peneliti memastikan perbedaan tingkat kepekaan antara yang dikhitan dengan yang tidak sebenarnya beda-beda tipis.
6. Tidak sunat bukan berarti tidak bersih
Banyak yang meyakini hal ini, namun sebenarnya mereka yang tidak disirkumsisi masih bisa memiliki kulup yang bersih asalkan rajin mandi. Caranya adalah dengan meretraksi kulup tersebut lantas menyiramnya dengan air. Bila hal ini dilakukan, infeksi apapun, termasuk HPV tak berpeluang untuk mampir.
(lll/up)











































