4 Mitos tentang Risiko Kehamilan Saat Coba-coba Variasi Bercinta

4 Mitos tentang Risiko Kehamilan Saat Coba-coba Variasi Bercinta

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jumat, 28 Apr 2017 17:10 WIB
4 Mitos tentang Risiko Kehamilan Saat Coba-coba Variasi Bercinta
Foto: thinkstock
Jakarta - Bercinta dengan gaya begitu-begitu saja, kadang terasa membosankan. Saat memilih variasi agar tidak bosan, seringkali pasangan terjebak pada mitos yang berhubungan dengan risiko kehamilan.

Menghindari risiko kehamilan idealnya paling efektif dilakukan dengan alat kontrasepsi. Berbagai variasi bercinta memang memiliki peluang yang lebih rendah untuk terjadinya pembuahan, meski sebenarnya tidak ada jaminan 100 persen.

Variasi seperti apa saja yang sering dianggap tidak mungkin memicu kehamilan? Berikut ini di antaranya, dirangkum detikHealth dari berbagai sumber.

1. Seks anal

Foto: thinkstock
Lubang anus dan rongga Ms V hanya dibatasi oleh area sempit yang disebut perineum. Sperma yang meluber dari anus sangat mungkin bergerak ke sebelah, yang tentunya dalam kondisi basah ketika terangsang secara seksual. Sperma yang cukup kuat bisa saja terus berenang hingga mencapai sel telur.

Dalam beberapa kasus, kehamilan benar-benar terjadi usai berhubungan seks secara anal. Diberitakan detikHealth sebelumnya, salah satu kasus dialami oleh perempuan dengan cloacal malformation. Perempuan tersebut memiliki kelainan pembentukan organ vital, sehingga vagina dan anus saling terhubung.

Baca juga: Hamil Akibat Seks Anal? Nyaris Mustahil, Tapi Beginilah Faktanya

2. 'Dry sex'

Foto: thinkstock
Dry sex atau sering disebut juga 'outer course' merupakan salah satu variasi seks tanpa melibatkan intercourse. Walau tidak melibatkan penetrasi, terjadinya kehamilan tetap dimungkinkan jika ejakulasi terjadi sangat dekat dengan Ms V. Sperma memang tidak bertahan terlalu lama di luar tubuh, tetapi Ms V yang 'basah' mungkin saja menangkap dan menyelamatkannya.

3. Seks oral

Foto: Thinkstock
Tidak ada saluran yang menghubungkan mulut dengan sistem reproduksi, sehingga peluang terjadinya kehamilan sangat kecil dalam seks oral. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Dalam satu kasus di Chicago, seorang perempuan memberikan seks oral pada pasangannya hingga ejakulasi lalu diam-diam menyimpan spermanya untuk membuahi sel telurnya.

Baca juga: Langka Tapi Nyata, Ini Dia Kasus-kasus Hamil Setelah Seks Oral dan Anal

4. Coitus interuptus

Foto: thinkstock
Coitus interuptus alias senggama terputus sering menjadi pilihan bagi pasangan yang belum atau tidak menghendaki kehamilan, tetapi enggan menggunakan alat kontrasepsi. Sesaat sebelum ejakulasi, Mr P dilepaskan dari Ms V sehingga sperma tidak keluar di dalam.

Satu yang kerap terlupakan adalah Mr P sudah mulai mengeluarkan cairan ketika mulai ereksi. Meski tak sebanyak ketika ejakulasi, kadang-kadang ditemukan sel-sel sperma dalam cairan tersebut. Faktanya, para pakar menyebut, coitus interuptus adalah metode kontrasepsi dengan tingkat kegagalan paling tinggi.

Halaman 2 dari 5
Lubang anus dan rongga Ms V hanya dibatasi oleh area sempit yang disebut perineum. Sperma yang meluber dari anus sangat mungkin bergerak ke sebelah, yang tentunya dalam kondisi basah ketika terangsang secara seksual. Sperma yang cukup kuat bisa saja terus berenang hingga mencapai sel telur.

Dalam beberapa kasus, kehamilan benar-benar terjadi usai berhubungan seks secara anal. Diberitakan detikHealth sebelumnya, salah satu kasus dialami oleh perempuan dengan cloacal malformation. Perempuan tersebut memiliki kelainan pembentukan organ vital, sehingga vagina dan anus saling terhubung.

Baca juga: Hamil Akibat Seks Anal? Nyaris Mustahil, Tapi Beginilah Faktanya

Dry sex atau sering disebut juga 'outer course' merupakan salah satu variasi seks tanpa melibatkan intercourse. Walau tidak melibatkan penetrasi, terjadinya kehamilan tetap dimungkinkan jika ejakulasi terjadi sangat dekat dengan Ms V. Sperma memang tidak bertahan terlalu lama di luar tubuh, tetapi Ms V yang 'basah' mungkin saja menangkap dan menyelamatkannya.

Tidak ada saluran yang menghubungkan mulut dengan sistem reproduksi, sehingga peluang terjadinya kehamilan sangat kecil dalam seks oral. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Dalam satu kasus di Chicago, seorang perempuan memberikan seks oral pada pasangannya hingga ejakulasi lalu diam-diam menyimpan spermanya untuk membuahi sel telurnya.

Baca juga: Langka Tapi Nyata, Ini Dia Kasus-kasus Hamil Setelah Seks Oral dan Anal

Coitus interuptus alias senggama terputus sering menjadi pilihan bagi pasangan yang belum atau tidak menghendaki kehamilan, tetapi enggan menggunakan alat kontrasepsi. Sesaat sebelum ejakulasi, Mr P dilepaskan dari Ms V sehingga sperma tidak keluar di dalam.

Satu yang kerap terlupakan adalah Mr P sudah mulai mengeluarkan cairan ketika mulai ereksi. Meski tak sebanyak ketika ejakulasi, kadang-kadang ditemukan sel-sel sperma dalam cairan tersebut. Faktanya, para pakar menyebut, coitus interuptus adalah metode kontrasepsi dengan tingkat kegagalan paling tinggi.

(up/vit)

Berita Terkait