Ketika Sperma Disimpan di Luar Angkasa

Ketika Sperma Disimpan di Luar Angkasa

Firdaus Anwar - detikHealth
Selasa, 23 Mei 2017 20:14 WIB
Ketika Sperma Disimpan di Luar Angkasa
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Lingkungan luar angkasa lebih berbahaya dibandingkan Bumi oleh karena itu muncul pertanyaan apakah suatu kehamilan masih bisa berjalan normal di sana. Studi pun mulai berusaha mengungkap misteri tersebut.

Satu studi terbaru yang dipublikasi di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) misalnya melihat bahwa setidaknya di luar angkasa sperma masih bisa bertahan dalam keadaan baik. Hal ini diketahui setelah peneliti melakukan eksperimen mengirimkan sperma tikus kering ke stasiun luar angkasa.

Di luar angkasa diketahui radiasinya bisa 100 kali lebih kuat dari di Bumi. Sementara paparan radiasi harian 0.5mSv saja sudah cukup untuk merusak DNA di sel termasuk pada sperma.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Ini yang Terjadi Saat Manusia Berada di Luar Angkasa Selama Setahun

Sperma tikus kering disimpan selama sembilan bulan di luar angkasa sebelum akhirnya dikembalikan dan dihidupkan kembali pada suhu ruangan. Peneliti melihat bahwa memang ada kerusakan genetik yang terjadi namun masih bisa membuahi sel telur.

Tingkat kesuburan dan kelahiran dari sperma tikus luar angkasa ini disebut peneliti mirip dengan tikus bumi. Anak-anak yang dihasilkan hanya memiliki sedikit perbedaan pada kode genetiknya dan bisa tumbuh hingga dewasa.

Salah satu peneliti, Sayaka Wakayama dari University of Yamanashi menduga sperma masih bisa membuahi karena ikut dibantu diperbaiki oleh sel telur.

"Bila sampel sperma disimpan lebih lama di luar angkasa, ada kemungkinan kerusakan DNA yang terjadi akan meningkat melebihi batas dari apa yang sel telur bisa perbaiki," kata Sayaka seperti dikutip dari BBC, Selasa (23/5/2017).

"Bila kerusakan DNA yang terjadi ternyata memiliki dampak signifikan terhadap keturunan, maka kami perlu mengembangkan metode untuk melindungi sampel sperma dari radiasi seperti menggunakan perisai es," lanjut Sayaka.

Peneliti mengaku masih belum jelas apakah studi ini akan membantu manusia untuk bisa tinggal di luar angkasa.

Baca juga: Bercinta di Luar Angkasa, Mungkinkah Dilakukan? (fds/vit)

Berita Terkait