Selasa, 30 Apr 2019 17:26 WIB

Sejarah Amputasi Mr P, Dari Bentuk Hukuman Hingga Prosedur Medis

Firdaus Anwar - detikHealth
Amputasi pada penis dilakukan karena alasan rohani, bentuk hukuman, hingga prosedur medis. (Foto: Thinkstock) Amputasi pada penis dilakukan karena alasan rohani, bentuk hukuman, hingga prosedur medis. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Amputasi menjadi hal menakutkan bagi sebagian besar orang karena berarti ia harus siap kehilangan sebagian dari tubuhnya. Terlebih lagi bila yang harus diamputasi adalah organ seperti penis.

Prosedur amputasi penis menurut ahli sudah dilakukan manusia sejak zaman dulu. Sebagai contoh kekaisaran China dan Jepang kuno diketahui pernah melakukan kebiri lewat potong penis sebagai bentuk hukuman untuk kriminal.


Ada juga mereka yang sengaja memotong penis sendiri untuk alasan kerohanian seperti dilakukan beberapa biksu Buddha.

Semakin modern praktik amputasi penis lebih sering dilakukan sebagai prosedur medis (penectomy). Hal ini dilakukan bila seseorang mengalami penyakit seperti kanker, kematian jaringan (gangrene), hingga bisa juga karena kecelakaan.

Seseorang yang menjalani amputasi penis karena kanker mungkin kehilangan sebagian saja, atau bisa juga seluruhnya. Menurut American Cancer Socitey pada amputasi sebagian biasanya akan disisakan 2-3 cm batang penis untuk memudahkan sang pria kencing.

"(Pada penektomi total) urinasi tetap bisa dikontrol karena otot sphincter yang berfungsi sebagai keran di uretra tidak diganggu, hanya saja pria mungkin perlu duduk untuk urinasi," tulis American Cancer Society.

(fds/up)