Senin, 01 Jul 2019 19:59 WIB

BKKBN Sebut Tingginya Tren Cerai Berisiko Timbulkan Masalah Gangguan Jiwa

Rosmha Widiyani - detikHealth
Stres yang ditimbulkan karena perceraian berisiko mendorong masalah gangguan jiwa. (Foto: Istock) Stres yang ditimbulkan karena perceraian berisiko mendorong masalah gangguan jiwa. (Foto: Istock)
Jakarta - Angka perceraian di keluarga Indonesia terus meningkat setiap tahun. Perceraian bisa berisiko buruk bagi kondisi mental dan psikologis anak, orangtua, dan anggota keluarga terdekat lainnya.

Terkait hal tersebut, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyinggung pentingnya keharmonisan keluarga. Keluarga yang bahagia menekan risiko terjadinya gangguan jiwa.

"Saat ini angka perceraian kita lumayan, tingkat stres kita tinggi. Orang yang cerai itu stresnya tinggi. Janda banyak sekali yang hidupnya miskin dan tidak sejahtera. Kalau janda hidup miskin, tidak sejahtera, akhirnya stres," kata Hasto usai upacara pelantikannya pada Senin (1/7/2019).


Dengan adanya kasus tersebut, Hasto mengatakan BKKBN akan fokus pada pembinaan kesehatan keluarga. Kesehatan fisik dan mental yang baik diharapkan bisa menciptakan keluarga yang harmonis sehingga tidak mudah stres.

Keluarga yang harmonis juga lebih mudah hidup bahagia dan sejahtera hingga tua. Hal ini juga akan mencegah munculnya janda korban perceraian yang hidup stres dan tidak bahagia.



Simak Video "Viral! ODGJ Bantu Buka Jalan Ambulans di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)