Kamis, 23 Jan 2020 23:00 WIB

Mr P Tak Punya Tulang, Kenapa Bisa Patah? Begini Penjelasan Medisnya

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Penis bisa 'patah', pria harus berhati-hati! Foto: iStock
Jakarta - Kita semua tahu bahwa penis tidak memiliki tulang dan rasanya mustahil bisa 'patah'. Tapi menurut ahli, fenomena ini bisa saja terjadi pada pria. Bagaimana bisa?

Dijelaskan oleh Dr Sara dari situs Metro UK, penis bisa 'patah' karena penyelubung seperti sarung di sekitar jaringan lunaknya patah dan mengeluarkan suara patah yang bisa didengar. Biasanya rasa sakit yang amat sangat dirasakan dan penis menjadi bengkak.

Ditambahkan oleh Dr Earim, direktur medis dari Manual, sebuah situs kesehatan pria, sejatinya penis 'patah' bukan seperti mematahkan tulang. Dalam komunitas medis, kondisi ini disebut penile fracture atau fraktur penis.

"Kita benarkan satu kesalah pahaman dulu, ereksi tidak disebabkan oleh adanya tulang. Jadi santai saja, tidak ada tulang yang patah saat fraktur penis terjadi, tidak seperti fraktur lengan contohnya. Untuk memahami bagaimana penis bisa 'patah', kita perlu memahaminya secara biologis terlebih dahulu," kata Dr Earim.


Penis terdiri dari tiga buah tabung berbentuk silinder, dua di antaranya merupakan jaringan mirip spons yang bisa melebar dan akan menjadi keras berisi darah saat ereksi, disebut corpus cavernosum.

Tabung ketiga berada di antara keduanya dan berisi uretra atau saluran kencing. Ketiga tabung ini terbungkus bersamaan oleh pembungkus berserat yang kuat, disebut tunica albuginea. Menurut Dr Earim, anggap saja seperti casing untuk sosis agar lebih mudah membayangkan.

"Ketika tabung-tabung ini robek atau retak, maka menyebabkan fraktur penis, dan darah saat ereksi bocor ke area lainnya di dalam penis. Umumnya ini terjadi saat seks di mana dorongan yang kuat dan penis keluar dari vagina dan malah menabrak tubuh pasangannya, bukan masuk kembali ke dalam vagina," lanjutnya.


Penis saat ereksi bisa tertekuk tajam dan menyebabkan robekan internal. Banyak studi mengindikasikan posisi woman on top menyebabkan risiko terbesar, diikuti dengan doggy style, karena penis bisa kehilangan kendali untuk kembali ke vagina jika terselip keluar pada posisi ini.

Kerusakan biasanya ditandai dengan suara retakan jelas, nyeri yang amat sangat, bengkak, ereksi yang langsung hilang, dan pendarahan dalam yang terlihat di dalam penis. Lalu apa yang harus dilakukan bila hal ini terjadi pada Anda?

Pertama-tama, hentikan dulu sesi bercinta dan segera mencari bantuan medis. Biasanya akan dilakukan operasi untuk membetulkan kembali, dan umumnya hasilnya baik dan tidak ada kerusakan permanen. Dalam enam minggu, pasien akan bisa kembali berhubungan seks.

Dr Earim mencatat jangan menunda-nunda, misalnya karena merasa malu, untuk meminta bantuan medis saat ini terjadi. Karena semakin lama ditangani semakin berisiko merusak penis lebih jauh dan meningkatkan risiko komplikasi, seperti disfungsi ereksi, luka atau penis menekuk permanen, kerusakan uretra, dan nyeri saat berhubungan seks.

"Manusia melakukan banyak seks dan pada kenyataannya fraktur penis cukup langka dan angkanya masih sedikit. Penis merupakan 'alat' yang cukup kuat, namun tetap perlakukan dan perhatikan dengan baik," pungkasnya.



Simak Video "Tahukah Kamu Laki-laki Juga Punya Masa Subur?"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)