Minggu, 01 Agu 2021 19:30 WIB

Urusan Seks, Lebih Seru kalau Terjadwal atau Spontanitas?

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Shot of a couple lying under a blanket with hearts scattered on the bed Foto: Getty Images/PeopleImages
Jakarta -

Menjadwalkan atau mengatur kapan harus melakukan hubungan seks mungkin akan terdengar aneh. Namun, sebenarnya banyak manfaat yang dapat dirasakan dari mengatur jadwal berhubungan seks. Mulai dari mengatasi kecemasan dan memberikan ruang bagi satu sama lain.

Dikutip dari Buzzfeednews, Veronica Kirin, seorang pelatih wirausaha, dan penulis buku Stories of Covid menceritakan bahwa pada awalnya ia menolak gagasan ini karena merasa untuk apa mengatur hubungan seksnya. Namun, ia mulai merasakan manfaatnya setelah menjadwalkan hubungan seks dengan pasangan.

"Kami selalu berada di rumah pada waktu yang sama, tetapi energi kami telah dihabiskan untuk hal-hal lain sepanjang hari," kata Kirin.

Kirin awalnya menolak gagasan ini karena ia lebih mendasarkan hubungan seksnya pada spontanitas. Alasannya, karena aktivitas kesehariannya seperti bekerja sudah berpatok pada jadwal yang ketat sehingga ia tidak ingin kehidupan seksnya juga dijadwalkan. Namun, ia berubah pikiran setelah berdiskusi dengan pasangannya yang menyarankan untuk menjadwalkan hubungan seks mereka.

Sebagian orang mungkin beranggapan jika menjadwalkan hubungan seks, berarti ada masalah dalam bahtera rumah tangganya atau hubungan mereka berada di ambang perpisahan. Padahal, banyak pakar seks yang merekomendasikan gagasan ini untuk meredakan kecemasan dan memberi ruang bagi satu sama lain dalam suatu hubungan.

Dr Kelly Casperson, ahli urologi dan pendiri podcast seksualitas You Are Not Broken, menyamakannya gagasan ini dengan olahraga.

"Jadi jika kita ingin olahraga menjadi bagian penting dalam hidup kita, kita akan menyisihkan waktu untuk itu," kata Dokter Casperson.

Dia menambahkan bahwa menjadwalkan seks bukanlah konsep baru, hanya saja kita tidak sadar telah melakukannya, terutama pada awal hubungan. Misalnya saja, saat merencanakan berhubungan seks pada hari libur saja karena tidak bisa melakukannya pada hari biasa atau pada waktu tertentu, seperti hanya pada malam hari.

Dustin Shepler, seorang psikolog, dari American Association of Sexuality Educators, Counselors, and Therapist, mengatakan bahwa kliennya sering kali merasa ragu jika diberikan saran untuk menjadwalkan hubungan seks.

"Mereka akan saling memandang: Apakah kita sampai pada titik bahwa hidup kita seperti ini? Apakah ini berarti pasangan saya tidak tertarik lagi dengan saya? Mereka khawatir bahwa menjadwalkan seks berarti pasangan mereka akan merasa berkewajiban untuk berhubungan seks dengan mereka, bahwa tidak ada keinginan lagi," ujar Shepler.

Menurutnya, anggapan bahwa seseorang harus 'dalam mood' untuk menikmati seks adalah mitos. Pada banyak kasus yang ia temui, penjadwalan hubungan seks dapat membantu mengurangi kecemasan tentang kehidupan seks mereka. Dia menambahkan bahwa pada hari-hari saat hubungan seks tidak dilakukan mereka akan merasa lebih nyaman dan menghargai sentuhan-sentuhan fisik sebagai bentuk mengekspresikan keintiman yang tidak selalu berujung pada hubungan seks.

Lebih lanjut, Shepler sangat merekomendasikan penjadwalan hubungan seks, terutama untuk pasangan yang berada dalam hubungan jarak jauh atau sedang dalam perawatan mengatasi kecemasan atau trauma. Terkadang, dalam suatu hubungan seseorang membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikiran mereka atau sekadar meluangkan waktu untuk quality time seorang diri.

Dokter Casperson dan Shepler sama-sama mengatakan bahwa fleksibilitas membantu orang menghindari perasaan "terpaksa" untuk berhubungan seks hanya karena sudah direncanakan. Meski sudah direncanakan bukan berarti setiap pasangan harus terpaku pada jadwal tersebut hingga menghindari sentuhan fisik sama sekali. Tidak apa-apa jika melakukan sentuhan fisik atau apapun untuk membangun keintiman dengan pasangan. Namun, harus berdasarkan consent atau persetujuan satu sama lain.

Shepler juga menyarankan kepada pasangan yang ingin menjadwalkan hubungan seksnya bahwa jangan berekspektasi dan kemungkinan akan terasa canggung diawal. Penting yang harus diketahui adalah bahwa tujuan dari penjadwalan hubungan seks untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan pasangan. Hubungan seks bukanlah prioritas utama, melainkan komunikasi, koneksi, dan kasih sayang yang harus dijadikan sebagai prioritas.

Jadi, lebih seru kalau spontan atau terjadwal? Bagikan pendapat di komentar.



Simak Video "Seks Anal dari Kacamata Medis"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)