Jumat, 17 Sep 2021 18:30 WIB

Mending Botak atau Dibiarkan Lebat? Ini Kata Dokter soal Cukur Rambut Miss V

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
ilustrasi vagina Rambut kemalaun lebih baik dicukur sampai habis atau tidak? (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Rambut kemaluan yang tumbuh di area vagina atau yang disebut juga rambut pubis seringkali menjadi kekhawatiran banyak wanita. Ada yang memilih mencukurnya sampai habis, tapi tak sedikit pula yang memilih memanjangkan rambut pubis.

Salah satu cara menghilangkan rambut kemaluan vagina adalah dengan waxing atau laser. Namun, amankah hal tersebut?

Menurut dokter spesialis bedah plastik, dokter Indri Aulia, SpBP-RE (K), MPdKed, waxing dan laser rambut di kemaluan boleh saja dilakukan, tetapi ada risiko dan syarat yang harus dipenuhi. Sebab, rambut kemaluan memiliki fungsi sebagai pelindung dari masuknya kuman ke dalam area genital.

"Rambut pubis itu sebagai barrier atau sebagai pelindung dari kuman-kuman sekitar untuk masuk ke dalam area genitalia," jelas dokter Indri, Jumat (17/09/2021).

Namun, bukan berarti rambut di area kemaluan harus dibiarkan tumbuh lebat. dr Indri menjelaskan, rambut kemaluan yang tumbuh lebat dapat mempengaruhi kelembapan area genital. Sementara terlalu plontos juga tidak baik untuk kesehatan area genital.

"Rambut daerah genital itu tidak harus plontos banget, jadi kalau terlalu lebat akan memengaruhi kelembaban-nya, tapi terlalu plontos juga akan membuat semakin mudah kuman-kuman untuk masuk," tambahnya.

Jerawat atau benjolan di vagina

Lantas amankah jika melakukan waxing atau laser pada rambut kemaluan? dr Indri memaparkan, perawatan waxing justru bisa menimbulkan masalah baru. Sebab, waxing membuat rambut kemaluan tercabut, kemudian rambut yang masih ada akan tumbuh. Seringkali, hal inilah yang menyebabkan timbulnya jerawat atau benjolan di area kemaluan.

"Apalagi kalau misalnya pori-pori tertutup dan seterusnya, jadi dengan waxing sebenarnya malah bisa menimbulkan masalah baru," ujarnya.

Sementara laser aman dilakukan, tetapi membutuhkan perhatian ekstra dengan menjaga area vagina tetap higienis.

"Untuk benar-benar menghilangkannya sampai habis, sampai plontos boleh tetapi dengan syarat hygiene dari daerah genitalia-nya tetap terjaga," kata dr Indri.

Misalnya saja, dr Indri mencontohkan jika seseorang sibuk bekerja dari pagi sampai sore dan tidak sempat mengganti celana dalam. Daerah vagina sangat lembab, sehingga jika tidak mengganti celana dalam bisa memudahkan kuman masuk ke dalam vagina.

"Dengan akan sangat mudah dia akan masuk kumannya dan paling sering nanti jadinya keputihan, jadi kayak infeksi awal dari daerah genitalia," pungkas dr Indri.



Simak Video "Bukan Tren, Peremajaan Miss V Itu Kebutuhan!"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)