Sabtu, 11 Sep 2021 19:01 WIB

Sering Dianggap Aneh, 7 Hal Ini Normal Terjadi pada Miss V

Rita Puspita Rachmawati - detikHealth
Concept sex, masturbation. Hand, fingers in grapefruit, vagina symbol on a red background Berbagai hal aneh yang sebenarnya normal terjadi pada Miss V. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Setiap wanita memiliki bentuk vagina dan ciri khasnya tersendiri. Perbedaan ini seringkali membuat wanita bertanya-tanya apakah vagina dalam keadaan normal atau tidak.

Dikutip dari Self, ada beberapa kondisi yang dianggap aneh padahal sangat normal terjadi pada wanita.

1. Labia memiliki berbagai bentuk dan ukuran

Banyak orang bertanya-tanya tentang vulva mereka, dan kekhawatiran tentang labia minora cukup umum.

Labia minora adalah bibir bagian dalam vulva, lipatan kulit terluar tempat wanita biasanya memiliki rambut kemaluan.

Mary Jane Minkin, M.D, seorang profesor klinis kebidanan dan ginekologi di Yale Medical School menyebut baik labia minora dan labia majora bisa memiliki ukuran yang berbeda. Labia minora biasanya antara satu dan dua inci panjangnya.

Tetapi beberapa orang memiliki labia minora lebih kecil atau lebih besar dari itu, yang juga normal. Labia minora beberapa orang melampaui labia mayora mereka dan beberapa tidak. Semuanya baik.

Satu-satunya tanda bahwa labia mungkin tidak normal adalah jika menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit saat bersepeda, berenang, berlari, sedang beraktivitas, atau bahkan terseret ke dalam vagina saat berhubungan seks.

2. Labia yang warnanya berbeda dari vulva

Vulva tidak harus memiliki warna yang sama dengan bagian tubuh lainnya seperti labia minora dan mayora, bahkan mungkin memiliki warna yang berbeda dari bagian lain.

Vulva juga berubah warna sepanjang hidup. menurut American College of Obstetrics and Gynecology (ACOG); warnanya bisa berkisar dari merah muda hingga coklat atau bahkan hitam, dan rona warna yang berbeda dapat bervariasi antar etnis.

Dr Minkin menambahkan bahwa perubahan mendadak seperti kemerahan atau peradangan dapat menunjukkan semacam iritasi atau infeksi, dalam hal ini seseorang mungkin butuh berkonsultasi dengan dokter.

3. Jumlah keputihan yang baik adalah yang berubah sepanjang bulan

Dr Minkin menyebut baik untuk memiliki sedikit kelembapan di vagina. Keputihan membantu menjaga kebersihan vagina dan bisa menjadi bagian dari pelumasan alami yang membuat seks terasa lebih baik daripada yang seharusnya.

Namun, keputihan yang tiba-tiba dapat menunjukkan infeksi jamur, sementara keputihan yang berubah menjadi abu-abu, hijau, atau disertai dengan bau aneh dapat mengisyaratkan sesuatu masalah kesehatan.

4. Bau yang khas

Vagina tidak mungkin harum bak bunga seperti dilihat di iklan. Dr Minkin menyebut aroma vagina bersifat individual.

Tetapi jika seseorang melihat perubahan dari aroma normal seperti sesuatu yang busuk atau amis, waspadai karena itu tanda-tanda potensial dari masalah kesehatan vagina.

5. Mengeluarkan gumpalan darah besar saat haid

Ternyata, melihat gumpalan dalam darah menstruasi adalah hal yang normal. Gumpalan ini pada dasarnya terjadi ketika darah keluar lebih cepat daripada antikoagulan tubuh, atau zat antipembekuan, yang dapat mengimbanginya. Dr Minkin menyebut gumpalan bisa terjadi ketika menstruasi sedang deras.

6. Tidak menjadi basah saat berhubungan seks

Vagina biasanya akan membuat pelumasan alaminya sendiri saat seseorang terangsang. Tetapi, kadang-kadang juga mungkin seseorang memerlukan sedikit bantuan. Misalnya dengan menggunakan pelumas.

Sebaiknya pilih pelumas berbasis air atau silikon. Jika seseorang memiliki vagina yang sensitif, ia mungkin ingin memeriksa bahan-bahan dalam pelumas untuk menjaga kemaluan senyaman mungkin.

7. Perubahan pada rambut kemaluan

Sama seperti rambut di kepala, rambut kemaluan berubah seiring bertambahnya usia. Bukan hal yang aneh jika rambut kemaluan berubah menjadi abu-abu atau berubah tekstur, kata Dr Minkin.

Seseorang mungkin juga kehilangan beberapa rambut kemaluan. Tidak jelas persis apa yang menyebabkan kerontokan rambut kemaluan, tetapi Dr Minkin menduga bahwa hal itu terjadi karena perubahan estrogen.

"Saat kita mengalami menopause, kita kehilangan hormon secara asimetris," jelas Dr Minkin.

Kondisi ini terjadi karena kehilangan estrogen terlebih dahulu, tetapi ovarium masih membuat testosteron dalam jumlah sedang. Akibatnya, beberapa orang akhirnya mengalami kerontokan rambut kemaluan.



Simak Video "Bukan Tren, Peremajaan Miss V Itu Kebutuhan!"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)