Gairah Seks Kendor Melulu? Mungkin Tandanya Kamu Kurang Piknik

ADVERTISEMENT

Gairah Seks Kendor Melulu? Mungkin Tandanya Kamu Kurang Piknik

Fadila Namira - detikHealth
Rabu, 07 Des 2022 05:00 WIB
Intimate moment of two lovers in shower, sexual desire and passion, relationship. ilustrasi seks
Ilustrasi berhubungan seks. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion)
Jakarta -

Stres dan jenuh akibat tekanan kerja bisa berdampak pada kesehatan. Penelitian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa liburan bisa mengurangi stres, meningkatkan kualitas hidup lebih baik, dan bahkan memperbaiki gairah seksual.

Penelitian tersebut dilakukan pada enam pasangan dari berbagai usia dan latar belakang kehidupan yang sibuk. Terdapat tiga pasangan yang masing-masing dikirim untuk liburan ke Thailand, Hutan Amazon di Peru, dan Pulau Maladewa (Maldives). Sementara tiga sisanya tetap tinggal di rumah dan menjalani pekerjaan mereka seperti biasa.

Hasil tes menyebut mereka yang pergi berlibur mengalami peningkatan suasana hati dan energi yang signifikan. Bahkan, tiga pasangan tersebut kembali pulang ke rumah dengan perasaan santai dan lebih jelas dalam tujuan hidup mereka. Berbeda dengan pasangan yang tinggal di rumah, mereka tidak mengalami peningkatan emosional seperti itu dan cenderung menurun.

Setelah tes yang melibatkan penggunaan monitor jantung dan kontrol pola makan, peneliti kesehatan dari Nuffield Health mencatat bahwa tekanan darah pasangan yang berlibur turun rata-rata enam persen, kualitas tidur meningkat sebesar 17 persen, dan ketahanan terhadap stres naik sebanyak 29 persen.

Berbanding terbalik dengan pasangan yang menjalani kehidupan seperti biasa. Terdapat dua persen peningkatan darah, 14 persen penurunan kualitas tidur, dan 71 persen ketidakmampuan mengelola stres.

Dikutip dari Skift, tidak semua rencana berlibur masing-masing pasangan berjalan lancar. Pasangan yang dikirimkan ke Hutan Amazon mulanya merasa stres, sedangkan pasangan yang berlibur ke Pulau Maladewa harus berjuang untuk meyakinkan tuan rumah bahwa hubungan mereka bukanlah hubungan asmara. Meski begitu, salah satu di antara mereka terlihat ada peningkatan libido.

"Secara umum, temuan menunjukkan bahwa kebanyakan orang merasa lebih bahagia, lebih banyak istirahat, dan lebih sedikit stres karena liburan mereka. Manfaat ini tentunya dapat berlanjut selama berbulan-bulan setelahnya. Beberapa dari mereka yang terlibat dalam proyek ini membuat perubahan yang sangat nyata dalam hidup mereka saat kembali," sebut Christine Webber, peneliti sekaligus psikoterapis.

Hasil lain dari penelitian kolaborasi antara spesialis perjalanan jarak jauh Kuoni dan ahli psikoterapi menyebut hanya dari sepertiga dari masyarakat yang menggunakan hak cutinya untuk berlibur. Sisanya, mereka terlalu sibuk menyelesaikan pekerjaan sehingga jarang beristirahat dengan baik.



Simak Video "Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT