Kakak Beradik Asal AS Ini Alergi Udara Dingin yang Langka

Kakak Beradik Asal AS Ini Alergi Udara Dingin yang Langka

- detikHealth
Selasa, 20 Nov 2012 14:00 WIB
Kakak Beradik Asal AS Ini Alergi Udara Dingin yang Langka
(Foto: ABC News)
Jakarta - Ada beberapa orang yang mengaku tak tahan dingin, ada juga yang bilang tak tahan gerah dan panas. Tapi itu hanya berlaku pada musim-musim tertentu saja.

Beda lagi dengan yang dialami oleh kakak beradik asal AS ini karena mereka benar-benar mengalami alergi terhadap suhu rendah atau dingin yang terbilang langka. Awalnya, sang kakak, bocah laki-laki bernama Connor Frankenfeld mengalami ruam aneh ketika berusia tiga tahun.

Orangtua Connor dan dokter yang menanganinya mengaku bingung dan tak tahu darimana ruam itu berasal. Namun ketika dibiarkan, ruamnya pun makin parah dari waktu ke waktu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Barulah setahun kemudian dokter bisa mendiagnosis kondisi Connor dengan alergi dingin yang disebut cold urticaria.

Cold urticaria adalah kondisi yang sangat langka dan hanya menyerang satu dari 100.000 orang. Faktanya, dokter yang menangani Connor, William Lanting dari Asthma and Allergy Center of the Rockies, Colorado mengaku hanya pernah melihat 4-5 kasus semacam ini dalam tiga dekade.

Penderita gangguan langka ini mengalami gejala-gejala seperti kulit memerah, gatal-gatal dan membengkak setelah melakukan kontak dengan suhu dingin. Parahnya aktivitas normal yang dilakukan penderita justru berpotensi mematikan misalnya berenang di air yang dingin.

Bahkan berenang dikatakan sebagai penyebab munculnya reaksi terburuk dan paling sering ditemukan pada penderita serta menyebabkan pingsan, shock, hingga meninggal dunia.

Lewat studinya yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine, peneliti Joshua Milner dan rekan-rekannya menemukan adanya mutasi genetik pada 27 orang dari tiga keluarga yang kesemuanya mengidap cold urticaria sekaligus gangguan dan ketidaknormalan sistem kekebalan lainnya.

"Untuk memahami hubungan antara kelompok gangguan ini; autoimunitas, infeksi kronis dan cold urticaria, kami tak hanya mengidentifikasi penyakit yang menyebabkan mutasi tapi juga menyingkap mekanisme genetik yang unik dan menarik terkait kemunculan alergi, sistem pertahanan kekebalan tubuh dan toleransi tubuh terhadap berbagai gangguan," terang Milner seperti dikutip dari huffingtonpost, Selasa (20/11/2012).

Yang lebih memprihatinkan lagi, adik perempuan Connor yang berusia 8 tahun, Taylor juga telah didiagnosis dengan kondisi yang sama, bahkan kondisinya jauh lebih buruk daripada sang kakak. Pasalnya Taylor pernah hampir mengalami shock anafilaktik hanya karena terkena AC yang ada di sekolahnya.

Kini mereka tak pernah dilaporkan meninggalkan rumah tanpa sarung tangan, syal dan jaket. Jika suhu di luar mencapai digit tunggal, mereka tidak diperbolehkan keluar rumah sama sekali.

Sayangnya hingga kini tak ada obat untuk penderita cold urticaria kendati sejumlah terapi bisa membantu mengurangi gejalanya, termasuk menghindari suhu dingin dan mengonsumsi antihistamine tertentu sebelum terpapar udara dingin.



(nvt/nvt)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads