Masih Bugar di Usia 45 Tahun, Daniel Mananta Mau Maraton Sampai Umur 70

Masih Bugar di Usia 45 Tahun, Daniel Mananta Mau Maraton Sampai Umur 70

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Selasa, 19 Mei 2026 16:05 WIB
Daniel Mananta
Daniel Mananta (Foto: detikHealth/Khadijah Nur Azizah)
Jakarta -

Tren olahraga lari kini tengah menjamur di Indonesia. Sayangnya, tidak sedikit orang yang terjebak fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau sekadar ingin pamer performa di aplikasi Strava. Menanggapi fenomena ini, presenter kondang Daniel Mananta membagikan pandangan mendalam soal esensi olahraga yang sesungguhnya.

Memasuki usia 45 tahun, Daniel membuktikan bahwa konsistensi adalah kunci. Ia telah menekuni lari maraton sejak tahun 2016. Selama 10 tahun terakhir, ia secara konsisten menjaga rutinitasnya hingga bersiap melakoni maratonnya yang ke-14 di Cape Town, Afrika Selatan.

Bagi Daniel, efek terbesar dari konsistensi lari selama satu dekade ini bukan hanya soal ketahanan fisik, melainkan transformasi mindset dan mental.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setiap hari gue harus mengalahkan diri gue sendiri berkali-kali. Pertama pas bangun tidur; mau lanjut tidur apa lari? Itu berat banget. Kedua, pas lagi lari dan kecapean; otak gue bilang lo harus lari terus, selesaikan ini," ungkap Daniel.

Di saat banyak orang membayangkan masa tua yang santai dan beristirahat total, Daniel Mananta justru memiliki visi yang jauh berbeda. Ia memasang target tetap berlari di jalur maraton sejauh 42 kilometer bahkan ketika usianya sudah menginjak kepala tujuh.

ADVERTISEMENT

"Gue pengen nanti ketika gue umur 70, atau ketika gue umur 80, masih bisa lari. Gue seperti itu soalnya. Target gue ketika gue umur 70, gue masih ikutan marathon," ujar Daniel.

Lari Sebagai Bentuk Meditasi

Berbeda dengan kebanyakan pelari yang mengandalkan musik bersemangat, Daniel justru memilih keheningan saat menempuh puluhan kilometer. Bagi dia, fase memikirkan rasa lelah atau makanan sudah lewat. Lari kini telah bertransformasi menjadi ruang spiritual tersendiri.

"Lari itu jadi meditasi buat gue. Itu adalah waktu ketika gue ngobrol sama Tuhan. Gue gak dengerin musik, kadang-kadang bahkan sampai dengerin khotbah, atau bahkan gak dengerin apa-apa," tuturnya.

Melihat banyaknya pelari pemula yang langsung memaksakan diri demi gengsi sosial hingga berisiko cedera, Daniel memberikan pesan emosional yang kuat. Ia meminta masyarakat untuk meluruskan kembali niat awal berolahraga.

"Jangan lari karena FOMO, tapi lari karena mau sehat. Jangan mau lari karena pengen terlihat cepat atau pengen ngebuktiin sesuatu di Strava. Olahraga karena lu pengen sehat," tegas Daniel.

Halaman 2 dari 2
(kna/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads