Operasi itu dilakukan Hannah enam tahun lalu. Ia berharap dengan ukuran buah dadanya yang lebih besar, single parent ini bisa kembali bekerja sebagai model. Tapi, dengan ukuran payudara yang besar, ia sulit menemukan bra yang cocok untuk berolahraga.
Akhirnya, Hannah berencana membuat bra yang cocok untuk wanita dengan payudara besar dan ingin aktif menjalani aktivitasnya. Rencananya, Little Miss Run Riot akan menjadi merek bra inovasinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hannah, saat ini juga banyak wanita di angkatan bersenjata yang melakukan operasi pembesaran payudara. Sehingga, mereka lebih rentan terhadap masalah kesehatan seperti penggumpalan atau pecahnya darah, demikian dikutip dari Mirror, Kamis (6/3/2014).
Sejak tahun 1997, Hannah sudah bekerja sebagai pelatih kebugaran. Hingga tujuh tahun kemudian ia memutuskan menjadi model. Namun, tahun lalu ia mulai berhenti dari pekerjaannya sebagai model karena harus mengurus anaknya seorang diri.
"Saya sempat bekerja di kantor tapi bosan. Akhirnya demi menjadi model lagi saya mengubah ukuran payudara saya dari 32C menjadi 32G. Tapi akibat sulit mencari bra yang tepat, justru menimbulkan ide untuk saya membuka usaha sendiri," kata Hannah.
Sebenarnya berpayudara besar tidak selamanya lebih baik. Payudara yang lebih besar berarti beban yang harus diampu tubuh lebih besar, terutama ketika membungkuk atau membawa beban berat. Beban berlebih itu menimbulkan berbagai masalah.
Salah satu masalah kesehatan paling kentara yang dialami wanita berpayudara besar adalah nyeri punggung. Semakin besar payudara, semakin berat tekanan yang harus diampu tulang belakang. Akibatnya punggung cenderung lebih miring ke belakang untuk menyokong beban itu.
Ukuran yang tidak imbang atau payudara yang berat juga dapat menyebabkan postur yang buruk dan ketidaknyamanan pada bahu. Hal ini terkadang dapat mengarah pada masalah saraf yang kronis.
(rdn/vit)











































