Jumat, 02 Mei 2014 18:00 WIB

Kisah Terapis Anak Gangguan Dengar, Sedih Jika Ortu Tak Kooperatif

- detikHealth
Eka K. Hikmat (Foto: Muamaroh Husnantiya/detikHealth) Eka K. Hikmat (Foto: Muamaroh Husnantiya/detikHealth)
Jakarta - Karena tak pernah mendengar suara, anak dengar gangguan dengar sangat berisiko menjadi tunawicara. Tetapi faktanya, mereka bisa mendengar dan berbicara seperti anak lain asalkan memiliki alat bantu dan menjalani terapi. Selain terapis, peranan orang tua sangat penting dalam upaya ini.

“Terapis itu hanya melatih, tetapi terapis yang sebenarnya ya bapak ibu sendiri, orang tua adalah guru utama anak," tutur Eka K. Hikmat, S. Psi, Terapis Auditory Verbal (AV) dari Yayasan Rumah Siput Indonesia.

Psikolog jebolan Universitas Padjadjaran tersebut tertarik menjadi terapis anak dengan gangguan dengar lantaran terinspirasi oleh sosok Helen Keller. Baginya, sosok Helen Keller sangat menakjubkan. Keller tunarungu serta tunanetra, tetapi ia dapat berbicara dan bahkan menjadi konselor, penulis, dan dosen. Padahal, saat itu belum ada alat bantu dengar maupun implan koklea seperti kini.

Terinspirasi oleh kegigihan Helen Keller dan kecakapan mentornya, Cheryl L. Dickson, Eka tak kenal jemu membimbing anak gangguan dengar agar mereka dapat mendengar dan berbicara. Padahal, membimbing mereka bukan perkara mudah. Beberapa anak sama sekali tak dapat mengucapkan sepatah kata pun ketika mendatanginya.

Pada detikHealth Eka menuturkan merasa sangat bahagia tatkala mendapati anak-anak tersebut bisa mengucapkan berbagai macam kata. Kepayahan dan kepenatan yang ia dapati ketika memberi terapi seolah menguap begitu saja.

“Ketika pertama kali datang ke kita, tidak ada bahasa sama sekali, tidak ada kata-kata. Kemudian setelah beberapa saat bersama kita, kata-kata keluar, itu rasanya amazing. Saya senang sekali, seolah rasa lelah menjadi tidak berarti saat melihat hasilnya,” ujar Manajer Program Yayasan Rumah Siput Indonesia itu ketika berbincang dengan detikHealth, dan ditulis pada Jumat (2/5/2014).

Sayangnya beberapa orang tua anak tak kooperatif. Mereka hanya mengandalkan terapi saja agar anak dapat mendengar dan berbicara. Padahal, guru utama anak tetaplah keluarga, terutama orang tua. Hal tersebut membuat terapis itu merasa sedih.

“Kalau keluarga tidak mau kooperatif, itu sedih sekali. Karena guru utama untuk bahasa anak sebetulnya keluarga di rumah terutama ibu dan ayah. Nah kalau kita terapi serius sekali, mencoba memberikan yang terbaik, tetapi di rumah tidak dijalankan, itu sama saja bohong, karena guru utamanya tetap ibu dan bapak,” pungkas Eka.

(vit/vit)
News Feed