Ari Wibowo, Remaja Asal Tangerang yang Mendunia karena 'Berkulit Ular'

Ari Wibowo, Remaja Asal Tangerang yang Mendunia karena 'Berkulit Ular'

- detikHealth
Kamis, 25 Sep 2014 09:44 WIB
Ari Wibowo, Remaja Asal Tangerang yang Mendunia karena Berkulit Ular
Ari Wibowo (Foto: Nurcholis Anhari Lubis)
Tangerang - Remaja 16 tahun asal Tangerang, Banten, Ari Wibowo menarik perhatian dunia akibat kondisi kulitnya yang bersisik bak ular. Hingga ia pun mendapat julukan 'remaja berkulit ular'.

Setiap 41 hari, kulit Ari selalu mengelupas. Untuk mencegah kulitnya mengering, ia pun harus berendam setiap jam, baik siang maupun malam, dan mengolesi tubuhnya dengan losion setiap tiga jam. Jika tidak mengoleskan losion atau berendam, kulit Ari akan mengeras hingga ia sulit bergerak.

Keseharian Ari didokumentasikan lewat bidikan kamera fotografer Nurcholis Anhari Lubis (35) yang sempat tinggal beberapa hari bersama keluarga Ari. Hasil jepretan Lubis dan kisah Ari kemudian menghiasi pemberitaan sejumlah media asing. India Today menulis:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

'Snake Boy' sheds skin every 41 days and soaks himself in water to stay alive. Sedangkan Daily Mail menulis: The 'Snake Boy' who has shed his skin every 41 days since he was born... and must soak himself in water every one hour to stay alive. Sementara Metro Inggris menulis: ‘Snake Boy': Meet the teen who sheds his skin every two days.

Dikatakan Lubis, kondisi kulit Ari terlihat seperti kulit pasca terbakar. Jika dibiarkan terlalu lama, Ari juga akan kesulitan bicara karena keriput pada mulutnya akan mengeras hingga menghambat aliran darah di tubuhnya. Sejak lahir, Ari diketahui mengalami Eritroderma.

Eritroderma merupakan sejenis penyakit kulit berupa peradangan dan menyebabkan kulit di hampir seluruh tubuh bersisik dan mengelupas. Sempat dirawat di RS tempat ia dilahirkan, tetapi kini keluarga hanya melakukan rutinitas menjaga kelembaban kulit Ari supaya tidak mengering dan mengelupas.

"Dia makan seperti anak lainnya. Dia suka sekali mi instan dan biskuit. Meski bisa beraktivitas normal, kadang teman-temannya ada yang menjauhinya karena kondisi Ari yang berbeda dengan anak lain. Juga tak ada sekolah yang mau menerimanya karena takut siswa lain tertular," tutur Lubis kepada Daily Mail Australia dan dikutip pada Kamis (25/9/2014).

Selain kesulitan bicara, penglihatan di mata kanan Ari juga terganggu. Sementara itu, mata kiri Ari harus tetap terjaga kelembabannya dengan teratur meneteskan obat mata.

"Saat mendekati Ari dengan pemotretan, dia kelihatan malu tetapi ia tetap percaya diri. Bahkan dia senang sekali membagikan kisahnya," kata Lubis.

Beberapa orang pun bersimpati atas kondisi Ari. Devon dari Inggris misalnya. "Anak yang malang. Sangat mengerikan. Semoga ada orang di sana yang bisa menolong," kata Devon.

Hoofy dari Australia mengharapkan hal yag sama. "Saya juga berharap seseorang mampu menolong pria muda ini untuk mendapatkan bantuan medis. Ari adalah pemuda yang sangat berani," tulisnya.

(rdn/vta)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads