Seperti halnya yang dialami wanita asal Amerika ini. Ia seringkali terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan seperti ditodong pistol, diserang orang tak dikenal, bahkan dipukuli oleh mantan suaminya hingga hampir mati. Namun ia sama sekali bergeming, karena ia tak bisa merasakan ketakutan.
Wanita yang hanya dikenal dengan inisial SM itu mengaku satu-satunya pengalaman tentang rasa takut yang ia ingat terjadi saat ia masih kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ia bahkan tidak menghubungi polisi setelahnya karena ia tidak melihat adanya ancaman di sana. Ia berbicara secara kasual kepada orang yang menyerangnya, silakan lukai saya. Dan justru karena hal itu, SM dilepaskan oleh si penyerang," ungkap Dr Daniel Tranel, salah satu tim peneliti dari University of Iowa yang meneliti keadaannya, seperti dikutip dari Daily Mail, Kamis (22/1/2015).
Setelah diteliti selama sekitar satu dekade, Dr Tranel dan timnya akhirnya menemukan bahwa wanita ini mengidap kondisi langka yang disebut penyakit Urbach-Wiethe. Kondisi ini mengakibatkan sebagian otaknya mengeras dan tak berfungsi.
Kebetulan dalam kasus SM, amygdala atau bagian otak yang berfungsi memunculkan respons takut pada dirinyalah yang terserang penyakit langka ini.
"Pengerasan ini disebabkan adanya penumpukan kalsium dalam otaknya," jelas Dr Tranel. Di samping itu, SM tak dapat mengenali ekspresi wajah orang lain yang merasakan ketakutan.
Beruntung wanita berumur 44 tahun ini memiliki kecerdasan normal, dan dapat merasakan emosi lainnya seperti bahagia, sedih dan marah.
"Hal lain yang menakjubkan darinya, karena tak punya rasa takut, berarti ia tak memiliki kenangan traumatis sama sekali. Jadi bila ada hal buruk terjadi kepadanya, mereka tidak menganggap itu buruk atau merasa terancam, ya biasa saja, seperti bukan kejadian yang buruk atau menyebabkan trauma di kemudian hari," timpal rekan Dr Tranel, Prof Antonio Damasio.
Dalam kasus SM, ia bahkan tak merasakan hal tersebut. "Justru kalau Anda takut pada banyak hal, Anda memang akan terhindar dari berbagai hal buruk, hanya saja hidup Anda jadi terasa menyakitkan bukan? Jadi mungkin kondisi ini baik bagi SM," tutupnya.
Tim peneliti kini berupaya mengaplikasikan kasus SM untuk membantu orang-orang dengan trauma berat seperti tentara yang baru kembali dari penugasan dan mengidap Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
(lil/vit)











































