Perilaku apa yang dimaksud? Delapan bulan terakhir, Ziya tiba-tiba menggemari banyak hal. Ia suka mainan anak laki-laki, tapi juga boneka dan mainan anak perempuan lainnya. Begitu pula dalam hal berpakaian, hari ini ia bisa terlihat memakai kaos dan celana pendek, keesokan harinya ia akan meminta dipakaikan baju anak perempuan berwarna pink.
Sang ibu, Faith Yewdall mengatakan putranya mengalami kondisi yang disebut 'gender-fluid' di mana terjadi tumpang-tindih antara karakteristik maskulin dan feminin dalam diri Ziya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh orang tuanya, Ziya dipakaikan baju anak laki-laki, namun rambutnya memang agak gondrong. Dan ketika Faith mengutarakan kondisi putranya, para guru di sekolah itu mengerti, bahkan mengagumi Ziya yang lincah.
"Tak tahunya mulai hari kedua teman-temannya mencoba menarik celana Ziya untuk memastikan apakah dia anak laki-laki atau bukan. Bahkan sebagian anak tidak memperbolehkannya memakai toilet," kisah Faith.
Mereka juga mengejek kotak makan Ziya yang bergambar My Little Pony dan menepuk pantatnya sembari memanggilnya 'cutie'. Faith menduga anak-anak ini merasa Ziya tak seperti anak laki-laki kebanyakan.
Karena tindakan bullying tersebut, bocah berusia enam tahun itu trauma. Tak berpikir panjang, Faith dan Eli langsung mengeluarkan Ziya dari sekolah dan memberinya homeschooling, dan luka psikis yang dialaminya pun mulai pulih, walaupun butuh waktu berbulan-bulan untuk benar-benar sembuh.
"Seperti salah satu bagian dari dirinya mati. Dari matanya tidak terpancar cahaya yang sama lagi. Tapi ketika saya pakaikan baju anak perempuan, ia ceria lagi," kata Faith.
Faith menambahkan, Ziya tahu dirinya adalah anak laki-laki. Ketika orang lain menganggapnya sebagai anak perempuan, ia memaksa sang ibu untuk menjelaskan bahwa dirinya adalah anak laki-laki. Di sisi lain, Ziya sangat menyukai warna pink, mainan My Litte Pony, boneka Barbie, serta headband dan baju warna-warni tak ubahnya anak perempuan.
Kadangkala ketika ditanya apakah ia anak perempuan, Ziya masih malu-malu mengakuinya, walaupun sekilas penampilannya memang seperti anak perempuan.
Baca juga: Saat Anak Paham Jenis Kelaminnya
Namun Faith dan suaminya, Eli tak pernah ambil pusing dengan kondisi Ziya. Selama anak itu ceria dan gembira menjadi dirinya sendiri, Faith dan Eli akan mendukung dan ikut bahagia melihatnya. "Ziya adalah anak yang inosen," pungkasnya.
Selama ini orang mengenal di dunia hanya ada dua gender, yakni wanita dan pria. Menanggapi hal ini, Anna Lisa Derenthal, terapis dengan spesialisasi isu identitas gender, mengatakan bahwa mereka yang merasa tidak cocok dengan ekspektasi masyarakat tradisional tentang ekspresi gender mereka, mengalami guncangan psikologis pada kedua identitas gendernya, yakni identitas yang ia miliki secara biologis dan identitas yang ia akui.
"Dan bagi mereka yang mengaku sebagai transgender, ketidakcocokan itu mendorong keinginan yang kuat untuk mengubah dirinya secara total agar sesuai dengan gender yang diakuinya," paparnya.
Sedangkan 'gender-fluid' merupakan cara pandang orang lain yang mempertanyakan tentang identitas sebenarnya dari seseorang dengan krisis identitas itu sendiri.
Baca juga: Baru Berumur 3 Tahun, Sudah Mau Ganti Kelamin?
(lll/vit)











































