Ya, Samara diketahui mengidap kondisi erythromelalgia atau sindrom Man on Fire. Penyakit ini membuatnya merasa panas dan nyeri seakan sedang mengalami luka bakar tingkat dua di dalam tubuhnya.
Tak cukup sampai di situ, ia juga diketahui mengidap sindrom Renauld, yang membuat tubuhnya bereaksi secara dramatis jika ada penurunan suhu ruangan, meskipun hanya sedikit saja. "Penyakit-penyakit ini memengaruhi semua hal dalam hidup saya. Rasanya sangat menjengkelkan harus terus-menerus merasa nyeri," ujar Samara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Samara pertama kali mengalami keluhan terkait kondisi ini di usia 9 tahun. Meskipun demikian, butuh waktu hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya ditemukan diagnosis yang tepat.
Tak bisa lagi beradaptasi dengan suhu di luar rumah, termasuk di dalam kelas, ia harus tetap tinggal di rumah dan bersekolah dengan metode homeschooling.
Meskipun belum diketahui penyebabnya, Samara dan keluarganya menduga kuat kondisi ini adalah penyakit turunan. Sebab sang ayah, Brian (53), diketahui juga mengidap kedua penyakit tersebut. Sama seperti Samara, ia juga hampir tak pernah meninggalkan rumah.
"Kami berdua telah mencoba berbagai pengobatan namun sejauh ini tak ada yang benar-benar terasa berhasil. Rasa nyerinya tetap ada. Tapi kami tak akan putus asa," tuturnya.
Seperti dikutip dari ABC News, Senin (29/12/2015), erythromelalgia merupakan penyakit saraf kecil dan pembuluh darah yang menyebabkan rasa nyeri terkait suhu tinggi panas, tekanan, atau stres.
"Orang-orang dengan diagnosis ini biasanya akan merasa mudah nyeri, misalnya ketika terpapar suhu ruang yang panas. Nyeri juga bisa muncul ketika orang tersebut memakai sepatu dan tersentuh sepatunya sendiri," ungkap Dr Stephen Waxman, ilmuwan saraf di Yale University dan West Haven Veterans Affairs Hospital.
Baca juga: Heidi Tunda Terapi Kanker Saat Hamil, Bayinya Malah Meninggal di Usia 8 Hari
(ajg/vit)











































