Kisah Hannah, Guru Tari yang Mengidap Down Syndrome

Kisah Hannah, Guru Tari yang Mengidap Down Syndrome

Firdaus Anwar - detikHealth
Kamis, 11 Feb 2016 16:05 WIB
Kisah Hannah, Guru Tari yang Mengidap Down Syndrome
Foto: BBC
Jakarta - Sejak balita Hannah Sampson dari Inggris sudah senang menari dan menjadi mimpinya untuk berkarir sebagai penari profesional. Namun demikian jalan yang harus Hannah lalui tak mudah karena ia memiliki sebuah kondisi kecacatan belajar, down syndrome.

Sang ibu berusaha mencari informasi cara apa yang mungkin bisa membantu mewujudkan mimpi buah hatinya dan menemukan sanggar tari yang menerima orang cacat. Hannah yang saat itu masih sekolah kemudian mencoba ikut sanggar.

"Dia langsung melepaskan diri, bakatnya langsung terlihat sejak awal," kata Siobhan Hayes, guru tari Hannah di Stopgap Dance Company seperti dikutip dari BBC pada Kamis (11/2/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Tak Bisa Baca Tulis, Gadis dengan Down Syndrome Ini Bisa Bikin Usaha

Awalnya Hannah hanya aktif sebagai anggota tidak tetap. Perlahan ia mulai menunjukkan bahwa dirinya memiliki potensi sampai di usianya kini yang menginjak 22 tahun ia menjadi anggota aktif penuh sekaligus pengajar di sanggar tari.

"Apa yang saya suka dari mengajar adalah melihat para penari mengasah kemampuannya dan tekniknya. Melihat sejauh apa mereka bisa kreatif," kata Hannah.

"Saat saya masih lebih muda, saya bermimpi menjadi penari profesional mainstream. Sekarang saya menjalani mimpi saya itu dan rasanya senang sekali. Lima sampai 10 tahun mendatang saya ingin menyusun koreografi tarian saya sendiri," tutup Hannah.

Menurut Hayes penari seperti Hannah dengan down syndrome punya kelebihan dibandingkan dengan penari lain umumnya yang tak cacat. Konsentrasinya terhadap hal yang mereka sukai membuat pengidap down syndrome lebih aktif terlibat dalam aktivitas.

Baca juga: Inspiratif! Kisah Hebat Orang-orang dengan Down Syndrome (fds/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads