Sang ibu berusaha mencari informasi cara apa yang mungkin bisa membantu mewujudkan mimpi buah hatinya dan menemukan sanggar tari yang menerima orang cacat. Hannah yang saat itu masih sekolah kemudian mencoba ikut sanggar.
"Dia langsung melepaskan diri, bakatnya langsung terlihat sejak awal," kata Siobhan Hayes, guru tari Hannah di Stopgap Dance Company seperti dikutip dari BBC pada Kamis (11/2/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya Hannah hanya aktif sebagai anggota tidak tetap. Perlahan ia mulai menunjukkan bahwa dirinya memiliki potensi sampai di usianya kini yang menginjak 22 tahun ia menjadi anggota aktif penuh sekaligus pengajar di sanggar tari.
"Apa yang saya suka dari mengajar adalah melihat para penari mengasah kemampuannya dan tekniknya. Melihat sejauh apa mereka bisa kreatif," kata Hannah.
"Saat saya masih lebih muda, saya bermimpi menjadi penari profesional mainstream. Sekarang saya menjalani mimpi saya itu dan rasanya senang sekali. Lima sampai 10 tahun mendatang saya ingin menyusun koreografi tarian saya sendiri," tutup Hannah.
Menurut Hayes penari seperti Hannah dengan down syndrome punya kelebihan dibandingkan dengan penari lain umumnya yang tak cacat. Konsentrasinya terhadap hal yang mereka sukai membuat pengidap down syndrome lebih aktif terlibat dalam aktivitas.
Baca juga: Inspiratif! Kisah Hebat Orang-orang dengan Down Syndrome (fds/vit)











































