Semua bermula ketika Wahyudi dengan sendiri memeriksakan diri ke puskesmas setempat karena merasa tak enak badan. Setelah diperiksa ternyata masalahnya cukup serius dan ia pun dirujuk ke rumah sakit daerah Tangerang, di mana ia akhirnya didiagnosis terkena kusta.
"Udah tahu penyakitnya dari situ lari ke Puskesmas Sukarahayu. Kebetulan ada petugas untuk kustanya. Langsung dirawat," ungkap Wahyudi kepada detikHealth ketika ditemui di Kantor Bupati Subang, Jawa Barat, Jumat (16/12/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wahyudi (tengah) Foto: Firdaus Anwar |
Baca juga: Tak Takut Stigma Tertular, Hafiza Berdayakan Mantan Pasien Kusta Jahit Jilbab
Selama ia berhenti mengonsumsi obat, bakteri kusta yang masih tersisa ternyata pelan-pelan menggerogoti tubuhnya. Kulit Wahyudi menghitam dan rusak. Sementara orang sekitar mulai menjauhinya.
Hinaan beberapa kali pernah diterima namun Wahyudi tak pernah terlalu memikirkannya. Wahyudi punya prinsip untuk tak mempedulikan omongan orang bila hal tersebut negatif dan baru akan mempertimbangkannya bila itu sesuatu yang positif.
"Kalau lagi sedih ya keluar aja ngopi ke warung. Gak terlalu dipikirin (omongan orang -red)," ungkap Wahyudi.
"Saya dibilang sama petugas ya udah berobat saja sampai tuntas. Sekarang mulai lagi dari awal," lanjutnya.
Kini di tahun 2016 dengan kondisi fisik yang sudah telanjur cacat Wahyudi mencoba bertahan hidup dengan mencari uang dengan menarik ojek atau beternak itik.
Baca juga: Asal Teratur Berobat, Kecacatan Akibat Kusta Bisa Dicegah
Waktu Wahyudi juga disisihkan untuk beraktivitas sebagai ketua di Kelompok Perawatan Diri (KPD) binaan puskesmas di mana sebagian anggotanya adalah OYPMK. Ia bersama anggota kelompok setiap dua minggu sekali rutin melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat membantu upaya pengentasan kusta. (fds/vit)












































Wahyudi (tengah) Foto: Firdaus Anwar