Saat detikcom mengunjungi rumahnya di Dukuh Geneng, Desa Genengsari RT 1 RW 5, Polokarto, Sukoharjo, Jumat (3/3/2017), kaki mungil yang dibalut perban itu kini sudah mulai bisa digerakkan meskipun sedikit.
Dua bulan lalu, kaki Dwi melepuh, bahkan dagingnya sedikit demi sedikit terkelupas. Kedua jari kelingkingnya hampir habis terkelupas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Naluri Pebalap yang Tak Pernah Padam Meski Kaki Kiri Diamputasi
Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom |
Suratmi dan suaminya, Joko Tarmanto kemudian membawa putrinya ke RSUD Karanganyar. "Kata dokter itu karena alergi obat. Sebenarnya akan dioperasi, tapi karena kondisi anak saya tidak stabil, lalu dirujuk ke rumah sakit swasta. Karena saya tidak punya biaya, saya bawa pulang dulu," kata Tarman.
Tarman, yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan, mengaku tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. "Kartu Indonesia Sehat (KIS) cukup membantu. Tapi kan kita juga harus mencukupi kebutuhan. Sedangkan saya tidak bisa bekerja karena harus merawat anak saya," ungkap ayah tiga anak itu.
Biaya untuk perawatan luka Dwi, kata Tarman, sekitar Rp 100 ribu sehari. Biaya tersebut tidak termasuk vitamin yang diberi gratis dari puskesmas. "Selama ini ya pinjam uang saudara. Sudah jual barang-barang juga, kayu, sepeda, HP," ujarnya.
Selama dua bulan tersebut, Dwi tidak dapat bersekolah. Dia hanya bisa belajar sendiri di rumah. "Pemerintah, dari Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, TNI, polisi sudah ke sini. Sudah diberi buku bacaan. Katanya, anak saya mau dibawa ke RSUD Sukoharjo," ujar Tarman.
Baca juga: Digigit Laba-laba, Bocah 10 Tahun Perlu Dosis Besar Penawar Racun (vit/vit)












































Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom