"Saya pernah diledek dan tiga kali diserang secara fisik. Saya ketakutan. Tiga tahun saya bersembunyi tidak mau keluar rumah," kenang David seperti dikutip dari BBC, Selasa (13/6/2017).
Selama beberapa tahun David belajar bela diri aikido dan jiu-jitsu dari ahlinya. Setelah itu menyadari bahwa gerakan ilmu bela diri tersebut masih kurang praktis untuk tunanetra, David pun mengembangkan keahlian baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan menggunakan tongkat yang sering dipakai sebagai alat bantu tunanetra, David memakainya sebagai alat untuk membela diri dari penyerang. Gerakan menangkis, menghindar, hingga melumpuhkan bisa dilakukan oleh seorang tunanetra dengan tongkat.
"Ilmu ini adalah bagaimana bela diri praktis bisa dilakukan dengan tongkat tanpa menggunakannya sebagai alat untuk menyerang. Tongkat ini merupakan perpanjangan dari seorang tunanetra, bukan senjata," kata David.
Ada bermacam-macam gerakan bela diri tunanetra yang diajarkan oleh David. Foto: BBC |
Kini David sudah memiliki kelas bela dirinya sendiri khusus untuk tunanetra. Dalam kelas ia tidak hanya mengajarkan bagaimana cara bertahan dengan tongkat tetapi juga bagaimana bernegosiasi atau bertahan dengan tangan kosong.
"Kebanyakan tunanetra itu akan kebingungan (saat diserang). Kami ketakutan. Banyak pikiran akan muncul ketika Anda tidak tahu apa yang sedang terjadi," ungkap David.
"Saya ingin membantu orang lain yang merasa dirinya lemah. Saya ingin membantu penyandang tunanetra lain agar bisa percaya diri," pungkasnya.
Baca juga: Video: Mengenal Zizi, Bocah Tunanetra yang Jago Main Piano (fds/mrs)












































Ada bermacam-macam gerakan bela diri tunanetra yang diajarkan oleh David. Foto: BBC