Tiga tahun lalu, Emma Getvoldsen menjalani prosedur histerektomi atau operasi pengangkat ovarium karena penyakit peradangan panggul kronis yang diidapnya. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya komplikasi di masa depan.
"Saya terpaksa menjalani histerektomi karena gejala-gejalanya. Tetapi di tahun 2016, gejala yang saya alami mirip-mirip endometriosis," kisahnya seperti dilaporkan The Daily Star.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemeriksaan selanjutnya memastikan bahwa ovarium Emma tumbuh kembali. Apa yang dialami oleh wanita asal Bath itu pun dianggap sebuah keajaiban dan baru pertama kali ditemukan di Inggris.
Fenomena yang terjadi pada diri Emma disebut sebagai 'ovarian remnant syndrome'. Kondisi ini juga teramat langka karena diperkirakan hanya terjadi pada satu dari satu juta orang.
"Kondisi ini justru memicu terbentuknya benjolan di panggul saya yang teramat sakit dan hanya bisa diredakan dengan campuran obat-obatan pereda nyeri, termasuk morfin," terangnya.
Di satu sisi, ovariumnya berfungsi sepenuhnya, tak ubahnya ovarium milik seorang gadis perawan. Namun karena penyakit peradangan panggul yang diidapnya, keberadaan organ ini justru akan merugikan Emma suatu saat nanti.
"Saya punya alasan mengapa saya melakukan histerektomi. Saya mungkin tak bisa menghadapi jika terjadi apa-apa," tutur Emma.
Emma saat menjalani perawatan. (Foto: Facebook/Emma Getvoldsen) Foto: Facebook/Emma Getvoldsen |
Baca juga: Kena Kanker Ovarium Bukan Berarti Wanita Sudah Tak Mungkin untuk Hamil
Pertimbangan inilah yang kemudian mendorong Emma untuk mengangkat ovarium barunya. Dengan dukungan sang kekasih, Emma menjalani histerektomi sekali lagi pada bulan Agustus 2016.
Akan tetapi tiga minggu kemudian Emma kesakitan lagi. Ternyata dari hasil ultrasound terungkap, yang diangkat dokter saat operasi keduanya itu adalah sebuah kista.
"Kista ini tumbuh di dalam ovarium saya. Saya sendiri tidak percaya," katanya.
Ketika berupaya meminta keterangan kepada dokter, tim medis pun mengatakan jika kondisi yang dialami Emma terlalu rumit. Belum lagi karena kelangkaannya, tim medis mengaku tak tahu bagaimana menangani Emma.
Emma lantas direkomendasikan untuk menjalani sebuah prosedur yang hanya ada di AS, tetapi dengan kocek pribadinya. Pada waktu itu, Emma harus mengumpulkan dana sebesar 50.000 poundsterling (sekitar Rp 925 juta). Untungnya lewat laman penggalangan dana, Emma berhasil diterbangkan ke Atlanta untuk mengangkat sisa-sisa ovariumnya.
Tak hanya itu, tim medis juga menemukan sebuah tumor di dalam usus buntunya dalam operasi yang berlangsung selama 9 jam itu.
Yang ditemukan kemudian adalah tumbuh tumor di dalam usus buntunya.
"Jika mereka tidak segera mengangkatnya, saya mungkin sudah meninggal Natal kemarin," tandas Emma.
Baca juga: Salah Satu Alasan Wanita Enggan Cek Gejala Kanker Ovarium: Sibuk Kerja
Emma dan kekasihnya, Matt yang memberikan dukungan penuh. (Foto: Facebook/Emma Getvoldsen) Foto: Facebook/Emma Getvoldsen |











































Emma saat menjalani perawatan. (Foto: Facebook/Emma Getvoldsen) Foto: Facebook/Emma Getvoldsen
Emma dan kekasihnya, Matt yang memberikan dukungan penuh. (Foto: Facebook/Emma Getvoldsen) Foto: Facebook/Emma Getvoldsen